Manajemen Keperawatan pada Luka Akut

Luka bagi kebanyakan orang menjadi hal yang sangat mengganggu dan menyebabkan ketidaknyamanan, baik fisik maupun psikis, serta meningkatkan morbiditas. Oleh karena itu, diperlukan paradigma baru dalam perawatan luka yang tidak beracun, minimal invasif, dan ekonomis, tetapi tetap mendukung penyembuhan luka yang optimal.

Di era modern seperti sekarang ini, tantangan penanganan proses perawatan luka semakin kompleks. Hal ini karena semakin meningkatnya pasien yang mengalami resisten terhadap antibiotik sehingga dapat menghambat proses penyembuhan luka bila pasien tersebut mengalami luka infeksi dan sepsis. Perawatannya harus lebih mengedepankan pertimbangan biaya, kenyamanan, dan keamanan. Ketiga hal tersebut tidak bisa begitu saja diabaikan karena setiap pasien mempunyai kondisi, baik itu soal sosial ekonomi, budaya, maupun karaktristik luka yang berbeda-beda. 

Sejak tahun 1940 hingga sekarang, perawatan luka sudah mengalami banyak perkembangan. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan yang lembap lebih baik daripada lingkungan kering. Hasil penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa migrasi epidermal pada luka superfisial lebih cepat pada suasana lembap daripada kering. Hal ini merangsang perkembangan balutan luka modern (Potter, 1998). Konsep penyembuhan luka dengan teknik lembap ini mengubah konsep perawatan luka dan memberikan rangsangan bagi perkembangan balutan lembap (Potter, 1998).

Manajemen umum untuk luka akut terbagi dua, yaitu:

  1. Trauma: menstabilisasi keseimbangan tubuh akibat perdarahan/kekurangan cairan, dll.
  2. Pascaoperasi: untuk mencegah infeksi.

Manajemen perawan luka akut akibat trauma:

  1. Mengembalikan dan mempertahankan homeostasis tubuh.
  2. Mengkaji derajat dan tipe jaringan yang mengalami trauma.
  3. Melakukan pencucian luka, debridemen, dan mencegah infeksi.
  4. Menggunakan teknik aseptik.
  5. Menghindari komplikasi pascatrauma.
  6. Mengembalikan fungsi bagian tubuh yang mengalami trauma.
  7. Mendukung proses pemulihan dan rehabilitasi kembali ke aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan.

Jenis – Jenis Luka – Rumah Peka - Perawatan Luka | Depok

 

Penyembuhan luka memengaruhi kualitas kehidupan jaringan karena berhubungan dengan regenerasi jaringan. Fase penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan (Kozier, 1995). Menurut Taylor (1997):

  1. Fase Inflamasi

Dimulai setelah perlukaan dan berakhir hari ke-3–4. Dua tahap dalam fase ini adalah hemostasis dan fagositosis. Sebagai hasil adanya konstriksi pembuluh darah, berakibat terjadi pembekuan darah untuk menutupi luka. Diikuti vasodilatasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah luka yang dibatasi oleh sel darah putih untuk menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan debris. Lebih kurang 24 jam setelah luka, sebagian besar sel fagosit (makrofag) masuk ke daerah luka dan mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang pembentukan anak epitel pada akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali dapat terjadi seperti tampak pada gambar.

C:\Users\Ani Septiana\AppData\Local\Microsoft\Windows\Clipboard\HistoryData\{AB16F02A-2525-4700-9E11-79D0D91ED9B9}\{32E07E34-6AA7-4CCE-AD73-6C3C0EE53780}\ResourceMap\{BB36DC41-78EE-4AC0-BC7F-6EF9BB99E965}

        Gambar Fase Penyembuhan Luka (Torre, 2006)

 

2.  Fase Proliferasi

Dimulai pada hari ke-3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21. Fibroblast secara cepat menyintesis kolagen dan substansi dasar. Lapisan tipis sel epitel terbentuk melintasi luka dan aliran darah ada di dalamnya. Jaringan baru ini disebut jaringan granulasi.

  1. Fase Maturasi

Fase akhir dari penyembuhan. Dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut sampai luka sembuh secara sempurna. Kolagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka sehingga bekas luka menjadi rata dan tipis

Perawatan luka dapat dilakukan dengan menggunakan terapi pengobatan. Salah satunya, dengan menggunakan selulosa mikrobial yang dapat digunakan, baik untuk luka maupun ulser kronik. Selulosa mikrobial dapat membantu proses penyembuhan, melindungi luka dari cedera lebih lanjut, dan mempercepat proses penyembuhan. Selulosa mikrobial yang diperoleh dari bakteri Acetobacter xylinum menunjukkan potensi yang baik dalam sistem penyembuhan luka. Kekuatan mekanik yang tinggi dan sifat fisik yang luar biasa dihasilkan dari struktur nano membran. Metode perawatan luka lainnya dengan balutan madu untuk pasien trauma dengan luka terbuka, dimana pasien tidak merasakan nyeri dibandingkan dengan penggunaan balutan normal salinpovidon iodin. 

Selain itu, dapat juga dilakukan modifikasi sistem vakum dalam perawatan luka. Pemberian tekanan negatif dapat meningkatkan pengeluaran cairan dari luka sehingga dapat mengurangi populasi bakteri dan udema, serta meningkatkan aliran darah dan pembentukkan jaringan yang tergranulasi. Melalui metode ini, kondisi pasien dapat ditingkatkan karena memberikan rasa nyaman yang lebih baik sebelum prosedur operasi.

Penutup Luka (Wound Dressing)

Penyembuhan adalah mengembalikan integritas jaringan yang terluka dan mecegah organisme deregulasi homeostasis. Penyembuhan luka telah berkembang dari zaman kuno. Aplikasi bahan penutup bertujuan untuk menghentikan pendarahan dan melindungi luka dari iritasi lingkungan sekitar, misalnya  air dan gangguan elektrolit.

Ada tiga kategori dari penutup luka, antara lain biologis, sintetis, dan biologi-sintetis. Alloskin (kulit dari donor) atau pigskin termasuk dalam katagori penutup luka biologis dan umumnya digunakan secara klinis. Kelemahannya, persediaan yang terbatas, antigen yang tinggi, daya rekat yang rendah, dan risiko kontaminasi silang. Penutup luka sintetis memiliki masa pakai yang lama, menyebabkan reaksi inflamasi yang minimal dan hampir tidak ada risiko penularan patogen. Penutup luka biologis-sintetik terdiri dari polimer dan bahan biologis (Suzuki et al., 1990).

Penutup luka yang ideal harus dapat memelihara lingkungan yang lembap di permukaan luka, memungkinkan pertukaran gas, bertindak sebagai penghalang bagi mikroorganisme, dan menghilangkan kelebihan eksudat. Harus tidak beracun, tidak menimbulkan alergi, harus terbuat dari bahan biomaterial yang banyak tersedia, memiliki sifat antimikroba, dan dapat menyembuhkan luka (Jayakumar et al., 2011). Beberapa fungsi penutup luka menurut Novriansyah (2008) antara lain:

  1. Melindungi terhadap pengaruh mekanik dan kontaminasi.
  2. Melindungi infeksi sekunder.
  3. Melindungi kekeringan dan hilangnya cairan tubuh.
  4. Melindungi terjadi penguapan.

 

Cara Membalut Luka dengan Perban | HonestDocs

 

Penulis: 
Rita Nopriyanti, S.Kep
Sumber: 
Tim Media Dinkes Babel

Artikel

07/01/2026 | Tim Media Dinkes Babel
07/01/2026 | Tim Media Dinkes Babel
10/11/2025 | Tim Media Dinkes Babel
16/07/2025 | Tim Media Dinkes Babel
24/02/2023 | Ns. Rita Nopriyanti, S,Kep
16/02/2021 | Ns. Malinda Listari, S.Kep
04/12/2023 | Nadia Ervina, S.Kep | Perawat Ahli Pertama
20/09/2022 | Nelly Bastina, S.Kep