PANGKALPINANG – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Terawan Agus Putranto mengatakan bahwa olahan ayam merawang sebagai bentuk kearifan lokal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini diungkapkan beliau saat memberi arahan dalam kegiatan Dialog Penanggulangan Stunting dengan para kader kesehatan, tokoh agama, serta perangkat desa, yang digelar di Belitung Resort Hotel - Pasir Padi. (26/02/2020)

“Ayam merawang dalam Gema Sabuk Amang menekankan kearifan lokal masyarakat  Babel untuk mengonsumsi makanan yang bergizi. Keaarifan lokal harus terus ditunjukkan. Jika diolah dengan baik, ayam besar seperti ayam merawang akan menjadi sangat baik bagi ibu dan anak,” jelas Terawan.

Manfaatkan juga makanan muatan lokal, tambahnya. “Sayur-mayur di lingkungan rumah dapat juga dimanfaatkan, apalagi jika diolah dengan baik. Misalnya, daun kelor ditambah dengan temu kunci. Muatan lokal seperti itu akan menambah gizi anak,” lanjutnya.

Terawan juga mengingatkan untuk melakukan pencegahan stunting sedari dini. “Misalnya, remaja putri harus minum tablet tambah darah untuk mencegah anemia sejak awal. Konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan mencukupi asupan nutrisi. Ayam merawang juga bisa menjadi makanan pencegah anemia,” ujarnya.

Lebih lanjut Terawan menjelaskan bahwa sanitasi menjadi hal yang penting dalam pencegahan stunting. “Semua pihak bersatu padu melalui Kementerian Kesehatan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya sanitasi, termasuk bahaya buang air sembarangan. Program jambanisasi dapat disosialisasikan ke desa-desa. Hal ini juga dapat dikomunikasikan dengan aparat teritorial sehingga dapat turun ke lapangan,” tutur Terawan.

Sementara perwakilan kader kesehatan desa Air Duren, Hj. Maryani menjelaskan bahwa selain ayam merawang, masyarakat desa Air Duren juga menggiatkan kelompok wanita tani. “Kami menanam sayuran dan juga memanfaatkan singkong pengganti nasi yang dibentuk butiran disebut beras aruk, dan produk lokal lainnya seperti kacang-kacangan. Produk lokal tersebut dikembangkan melalui BUMdes,” papar Maryani.

“Kami menyadari bahwa era sekarang ini, makanan alami tersingkirkan oleh makanan modern yang belum jelas nutrisinya. Setelah diberikan pemahaman oleh dokter dan bidan puskesmas, stunting dapat diatasi melalui pola asuh dengan memberikan makanan tambahan,” lanjutnya.

“Kami juga mememanfaatkan dan mencoba untuk mengolah  produk lokal  tersebut menjadi makanan tambahan dan mengajarkan pengolahannya  di posyandu kepada para ibu hamil dan ibu balita,” ungkapnya.

“Dengan ditetapkannya Kabupaten Bangka menjadi kabupaten lokus stunting, kami berupaya untuk mengetahui cara mengatasi stunting pada balita melalui pola makan sehat  terkait sumber pangan  yang kami miliki di desa. Kami menyadari bahwa belum dapat memanfaatkan sumber pangan tersebut secara optimal. Tapi kami berusaha untuk meningkatkan status gizi balita dan ibu hamil sehingga dapat menurunkan angka stunting di Bangka Belitung,” pungkasnya.