SUNGAILIAT - Dalam rangka gerakan aksi bergizi, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengedukasi santriwati Pesantren Islamic Center Bahrul Ulum, Rabu (30/08/2023). Saat membuka kegiatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dr. Andri Nurtito, MARS menjelaskan bahwa pondok pesantren sebagai sekolah berbasis agama Islam dengan sistem pengasuhan asrama merupakan sasaran yang tepat untuk gerakan aksi bergizi.

"Dengan kisaran umur remaja, santriwati diharapkan dapat berperan dalam pelaksanaan aksi bergizi secara berkesinambungan dengan kegiatan umum melakukan aktifitas fisik, minum tablet tambah darah (TTD), dan edukasi gizi seimbang," jelasnya.

"Masa remaja merupakan tahapan kehidupan yang sangat penting untuk menentukan kualitas kehidupan di masa yang akan datang.  Berdasarkan data BPS 2020, Indonesia memiliki jumlah 45 juta remaja, artinya 17 persen dari total populasi masyarakat Indonesia adalah remaja dan sebagian mengalami malnutrisi.," jelasnya.

"Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa penduduk dengan usia lebih dari 10 tahun kurang mengkonsumsi buah dan sayur cukup banyak, yaitu sekitar 96,4 persen. Remaja sebagai kelompok tertinggi yang kurang mengkonsumsi buah dan sayur, yaitu sebesar 98,4 persen. Remaja putri juga banyak yang mengalami anemia defisiensi zat besi. Kondisi itu diperburuk dengan tingginya angka pernikahan di usia remaja," tutur Andri.

"Kami berharap edukasi yang menyasar santriwati di Islamic Center ini dapat menjadi  kegiatan yang masif dan berkelanjutan serta sebagai percontohan bagi pesantren yang lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung," harap Andri.

Sementara Ketua Yayasan Bahrul Ulum, Syaiful Zuhri menyampaikan apresiasi kepada tim Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Bangka atas dipilihnya Pesantren Bahrul Ulum sebagai tempat pelaksanaan kegiatan ini.

"Terima kasih telah memilih Pondok Pesantren kami sebagai tempat pelaksanaan Gerakan Edukasi dalam Aksi Bergizi. Untuk diketahui, total jumlah siswa dan siswi kami sekitar 740 orang, ditambah dengan guru dan tenaga lainnya sekitar 120 orang. Dengan kegiatan ini, anak didik kami dapat memiliki wawasan tentang kesehatan," ungkap Syaiful.

"Saya mendengar istilah stunting. Mungkin dalam istilah kita (ed. bahasa daerah), stunting ini sama dengan kebencet. Hal ini juga harus diketahui agar para anak  didik dapat memahami cara pencegahannya," ujarnya. 

"Dimulai dengan senam bersama, para santriwati mengikutinya dengan semangat. Dengan kegiatan ini, anak didik kami dapat menyadari bahwa kesehatan itu penting. Dimulai dengan menjaga lingkungan, yang berarti kebersihan harus dijaga. Salah satunya, dengan membuat taman tetep indah dan asri," tuturnya.

"Kami sangat mendukung kegiatan edukasi ini, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi para santriwati yang ada di Islamic Center Bahrul Ulum," pungkas Syaiful Zuhri.