PANGKALPINANG - Menjelang pelaksanaan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, sebanyak 144 enumerator se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengikuti workshop, yang diselenggarakan di Hotel Sun.
Saat membuka Workshop Enumerator Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 yang akan digelar selama lima hari, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dr. Andri Nurtito, MARS mengungkapkan bahwa tujuan SKI adalah menyediakan data dan informasi status kesehatan yang telah dicapai selama kurun waktu lima tahun terakhir.
"Selain itu, untuk mengetahui Informasi besaran masalah faktor risiko terkait derajat kesehatan yang diukur. Hal ini sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan kesehatan di Indonesia," jelas Andri (05/08/2023).
"SKI ini merupakan kegiatan lanjutan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) sebelumnya. Pengumpulan data bidang kesehatan berbasis komunitas ini dapat menggambarkan informasi tingkat nasional sampai dengan kabupaten/kota dan dilaksanakan oleh Badan Litbangkes sebanyak tiga kali, yaitu tahun 2007, 2013, dan 2018," tuturnya.
Untuk tahun 2023, lanjut Andri, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melanjutkan riskesdas dalam bentuk SKI.
"Riskesdas atau SKI diharapkan dapat dilakukan setiap lima tahun karena dianggap interval yang tepat untuk menilai perkembangan status kesehatan masyarakat, faktor risiko, dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan," lanjutnya.
"Bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, proses pengumpulan data spesifik kesehatan ini dilaksanakan oleh enumerator yang berlatar belakang pendidikan minimal D3 kesehatan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan," ujar Andri.
"Indikator kesehatan utama yang diukur pada tahun 2007, 2013, dan 2018, sebagian besar (sekitar 75 persen) diukur kembali pada tahun 2023, dengan penambahan beberapa indikator Covid-19 dan transformasi kesehatan," jelas Andri.
"Kita berharap SKI menghasilkan informasi lengkap terkait bidang kesehatan dan dapat diakses sebelum tahun 2023 berakhir sebagai rancangan teknokratik RPJMN 2024 – 2029 dan dapat dimanfaatkan oleh banyak sektor," pungkas Andri.