Belajar Gizi dari Umar bin Khatab

Alkisah pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab, beliau dikenal sebagai khalifah yang sering meronda keliling negeri pada malam hari untuk melihat situasi dan kondisi rakyatnya. Pada suatu malam, Umar lewat di depan sebuah gubuk dan mendengarkan tangisan beberapa orang anak. Dengan mengendap-endap, Umar mendekati gubuk tersebut agar tidak ketahuan penghuninya. Dari dalam gubuk, Umar mendengarkan dengan jelas tangisan beberapa orang anak yang meminta makanan kepada ibunya. Sang ibu mencoba menghibur anaknya dengan mengatakan bahwa makanan sedang dimasak dan sebentar lagi akan dihidangkan. Pada mulanya Umar lega mendengarkan penjelasan sang Ibu, tetapi setelah beberapa jam makanan tersebut belum juga disajikan dan sang Ibu selalu memberikan jawaban yang sama bila anaknya bertanya sambil menangis.

Umar sangat heran dan bertanya di dalam hati, apa gerangan yang dimasak sang Ibu. Rasa penasaran itu terus ada meskipun anak-anak si Ibu telah diam karena kelelahan dan kelaparan. Umar mencoba mendekat ke arah dapur dan mengintip masakan sang Ibu. Umar sangat terkejut ketika mengetahui bahwa yang dimasak sang Ibu hanyalah sebongkah batu yang tidak akan mungkin masak sampai kapanpun. Keesokannya Umar memerintahkan agar mengirimkan sekarung gandum ke rumah tersebut, agar sang Ibu dapat memasaknya untuk memberi makan anak-anaknya.

Dari kisah ini kita dapat mengetahui bahwa kekurangan gizi bisa saja disebabkan oleh tidak tersedianya makanan di rumah tangga. Selain itu, dari kisah tersebut kita juga mengetahui bahwa jumlah anak dan kemiskinan sangat berpengaruh terhadap kejadian kurang gizi. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman dalam Al Quran :

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Al Qur’an Surat Annisa ayat 9)

Menurut Ahli gizi, kondisi kekurangan gizi disebabkan oleh 2 faktor utama, yaitu factor makanan dan factor infeksi. Ketersediaan makanan di tingkat rumah tangga dan perilaku atau pola asuh ibu merupakan segi dominant yang mempengaruhi factor makanan, sedangkan tingkat pelayanan kesehatan, perilaku sehat, dan kesehatan lingkungan merupakan segi dominant yang mempengaruhi factor infeksi. Sebagaimana kisah Umar di atas, kita memahami apabila Umar memberikan bantuan berupa sekarung gandum kepada sang Ibu, tetapi bantuan itu hanya bersifat sementara, karena apabila gandum telah habis, maka risiko kelaparan akan mungkin terjadi lagi. Hal itu mungkin tidak akan terjadi apabila Umar juga membantu sang Ibu dengan memberikan modal berdagang atau memberikan pekerjaan kepada sang Ibu tanpa harus meninggalkan anak-anaknya. 

Kelemahan yang didera oleh anak-anak kita sering disebabkan oleh kurangnya perhatian kita, ketika mereka dikandung, dilahirkan dan dibesarkan. Perhatian yang penuh dari seorang ibu pada anak yang dikandungnya akan memberikan dampak yang sangat baik bagi anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Ibu yang memeriksakan kandungannya minimal 4 kali dalam masa kehamilannya merupakan ibu yang sangat sayang pada anaknya yang dikandungnya. Sesungguhnya sejak mulai 8 minggu kehamilan otak anak telah mulai terbentuk dan terus berkembang sampai berumur 5 tahun, sehingga pemeriksaan berkala minimal 4 kali dalam masa kehamilan merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kelainan pada tumbuh kembang anak selama dalam kandungan. 

Perhatian tersebut tidak hanya harus diberikan oleh seorang ibu saja, tetapi sang bapakpun mempunyai kewajiban untuk memberikan perhatian, karena istri dan anak merupakan tanggung jawab seorang Bapak. Kepedulian seorang Bapak terhadap tumbuh kembang anaknya dan terlibat aktif dalam pengasuhan anak akan mampu mendorong perkembangan motoric halus dan kasar pada anak serta meningkatkan kemampuan saraf otak untuk bekerja lebih optimal. 

Ketika seorang bayi dilahirkan segeralah seorang ibu memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayinya. ASI tidak hanya menjadi makanan terbaik yang tidak ada tandingannya bagi bayi, tetapi juga merupakan wujud nyata limpahan kasih sayang seorang ibu. ASI tidak hanya membunuh kuman-kuman yang ada dalam usus bayi, tetapi juga memberikan zat-zat gizi yang sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pertumbuhan otaknya. Anak yang diberikan ASI saja selama 6 bulan pertama dan terus diberikan minimal sampai berumur 2 tahun akan mempunyai tingkat kecerdasan dan kesehatan yang lebih baik. 

Pakar gizi dan kesehatan menyepakati, bayi harus diberi ASI eksklusif selama enam bulan pada awal kehidupannya. Hal ini akan menjamin asupan gizi berkualitas dalam periode sangat penting ini. Anak memasuki fase usia keemasan sampai usia dua tahun. Pada periode inilah perkembangan otak sangat optimal dan karena itu menyusui sampai dua tahun menjadi penting. Pemberian Air Susu Ibu kepada bayi hingga berumur 2 tahun sangat disarankan dalam ajaran Islam, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 233. 

“Ibu-ibu itu menyusukan anak-anaknya dua tahun genap, bagi orang yang menghendaki akan menyempurnakan susuan. Kewajiban atas Bapak memberi belanja ibu dan anaknya itu dan pakaiannya secara ma’ruf. Tiadalah diberati seseorang, melainkan sekedar tenaganya. Tiadalah melarat ibu karena anaknya, dan tiada pula melarat seorang bapak karena anaknya, dan terhadap warispun seperti demikian pula. Jika kedua ibu bapak hendak menceraikan anaknya dari menyusu sebelum berumur dua tahun dengan kesukaan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tiada berdosa keduanya. Jika kamu menghendaki perempuan lain menyusukan anakmu, maka tiada berdosa kamu bila kamu berikan upahnya secara ma’ruf. Takutlah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”

Oleh karena itu, memberikan ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi dan anak selama 2 tahun pertama kelahirannya serta memberikan makanan bergizi seimbang selama masa pertumbuhannya merupakan kewajiban orang tua dan hak anak yang harus dipenuhi, baik oleh orang tua, maupun pemerintah. Mari kita memulai mengatasi masalah gizi bermula dari kehidupan keluarga, karena Keluarga adalah Mutiara Terindah yang kita miliki.

Wiwin Efrizal, SST Gizi, M.Si.Med.
Nutrisionis Madya Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Sumber foto: https://tirto.id

Penulis: 
Wiwin Efrizal, SST Gizi, M.Si.Med.
Sumber: 
Tim Media Dinkes Babel

Artikel

15/06/2022 | Tim Media Dinkes Babel
23/05/2022 | Tim Media Dinkes Babel
31/03/2022 | Tim Media Dinkes Babel
18/03/2022 | Tim Media Dinkes Babel
16/03/2022 | Tim Media Dinkes Babel
31/12/2018 | Zulfikri Tabrani, SKM | Pembimbing Kesehatan Kerja Muda
06/06/2020 | Ns. MALINDA LISTARI, S.Kep
22/09/2014 | RSU Provinsi
18/12/2019 | Zulfikri Tabrani, Editor: Adinda Chandralela
16/02/2021 | Ns. Malinda Listari, S.Kep