Terapkan SITB, Strategi Dinkes Babel Tingkatkan Cakupan TBC

PANGKALPINANG - Dengan menerapkan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yakin dapat meningkatkan cakupan penemuan dan pengobatan TBC. 

Dalam rilis pramasnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto menegaskan bahwa SITB menjadi salah satu strategi dalam pengendalian TBC. (05/02/2020)
"Kementerian Kesehatan telah mengembangkan SITB yang dapat digunakan untuk melakukan pencatatan dan pelaporan kasus, misalnya TBC sensitif dan TBC resisten obat. Termasuk juga dengan pengelolaan logistik dan laboratorium," lanjutnya. 

Menurutnya, sistem ini akan terintegrasi dengan sistem informasi kesehatan lainnya, antara lain sistem informasi HIV AIDS (SIHA), sistem informasi manajemen rumah sakit (SIM RS), dan lain-lain. "Pada tahun 2020 ini, direncanakan program penanggulangan TBC dalam melakukan pencatatan pelaporan dan analisis data TBC menggunakan SITB. Kita akan melakukannya dengan satu data, sistem informasi kesehatan yang terintegrasi" sambung Mulyono. 

Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit,  Muhammad Henri menjelaskan bahwa suatu strategi nasional program pengendalian TB perlu dirancang agar langkah percepatan dapat dilakukan secara terarah dan berkelanjutan guna mencapai eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030.
"Agar penemuan dan pengobatan TBC semankin intensif, proaktif, dan massal, gerakan TOSS TB atau temukan TBC Obati sampai sembuh harus digencarkan oleh petugas dan kader di lapangan," jelas Henri.

"Program Indonesia Sehat dengan pendekatan kesehatan keluarga juga dapat dijadikan salah satu data, baik dalam penemuan kasus maupun pengobatan. Petugas dapat berkontak langsung dengan anggota keluarga dalam menggali informasi terkait kesehatan keluarga, terutama TBC," lanjutnya. 

Henri menambahkan bahwa penting juga memotivasi pemerintah kabupaten/kota agar mengalokasikan dana yang cukup untuk program pengendalian TBC ini. "Program
eliminasi TBC yang ditargetkan akan bisa diberantas pada tahun 2030 ini merupakan program nasional. Keterbatasan anggaran memerlukan dukungan semua pihak," ungkap Henri.

Oleh karena itu, lanjutnya, memperluas kemitraan dengan lintas sektor dan lintas program dapat meningkatkan cakupan penemuan dan pengobatan di Babel.

Sumber: 
Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Penulis: 
Adinda Chandralela
Fotografer: 
Kementerian Kesehatan RI
Bidang Informasi: 
Dinkes