Spesialis Patologi Klinik Labkes Babel: Hasil Swab Kedua Negatif, Bapak JD Akan Isolasi Sepuluh Hari

PANGKALPINANG – Hasil pemeriksaan sampel swab yang kedua bagi Bapak JD, anggota DPRD Kabupaten Belitung negatif sehingga yang bersangkutan akan menjalani masa isolasi selama sepuluh hari. Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Patologi Klinik UPTD Balai Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Labkes Dinkes Babel), Egha Zainur dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Labkes Dinkes Babel, Rabu (05/08/2020).

“Pengambilan sampel pertama dan pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah Marsidi Judono Belitung pada tanggal 02 Agustus 2020 dengan hasil positif. Karena yang bersangkutan saat ini diisolasi di Wisma BKPSDM Babel, penanganan selanjutnya dilakukan oleh dokter penanggung jawab pelayanan wisma,” lanjut Egha.

“Kami mendapatkan informasi  dari sejawat spesialis patologi klinik di RSUD Marsidi Judono bahwa angka yang didapat cenderung menjelang ke pemulihan. Inilah kemudian yang perlu dikonfirmasi dua kali,” jelas Egha.

Swab pertama yang kami ambil merupakan swab yang kedua untuk Bapak JD, lanjut Egha. “Memang hasilnya negatif, tetapi belum bisa disimpulkan begitu saja. Status masing-masing orang berbeda. Pada awalnya, potensi negatif palsu masih tinggi, demikian juga ada potensi negatif palsu,” jelasnya.

“Hasil swab yang pertama sudah jelas positif sehingga swab kedua dihitung sekali dalam konteks negatif dan itu tidak berlaku karena baru sekali. Kalaupun digabung dengan swab yang pertama,  itu masih dianggap positif,” jelasnya.

“Secara prinsip, virus ini masuk dari saluran napas sehingga ada perbedaan antara kondisi awal, kondisi tengah, dengan kondisi akhir. Waktu yang paling mudah untuk mendapatkan dianostiknya adalah saat kondisi tengah. Inilah masa puncak virus,” kata Egha.
 “Untuk meminimalkan kondisi negatif palsu tersebut, secara protokol perlu dilakukan pemeriksaan swab dua kali. Ketika hasil negatif  sekali, hal itu belum bisa menjadi jaminan bahwa benar negatif,” imbuhnya.

Untuk memastikannya, imbuh Egha, perlu dilakukan pemeriksaan swab satu kali lagi dan itu bisa menjadi bahan penyimpulan. “Namun, yang bersangkutan tidak berkenan untuk dilakukan pengambilan swab. Oleh karena itu, kami akan menerapkan  protokol sesuai dengan Pedoman terbaru yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, yaitu melakukan isolasi selama sepuluh hari,” tegasnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto menjelaskan bahwa beliau sudah melakukan komunikasi dengan Bapak JD melalui panggilan video.

“Kondisi Bapak JD baik dan sehat, tidak ada gejala klinis sehingga yang bersangkutan masuk kategori kasus konfirmasi tanpa gejala,” jelasnya.

Untuk penanganan di Wisma BKPSDMD Babel, lanjut Mulyono, kami menerapkan dua pilihan protokol untuk penentuan selesai masa isolasi atau kesembuhan bagi pasien konfrimasi. “Terdapat dua pilihan. Yang pertama, bagi yang tidak bergejala, isolasi selama sepuluh hari tanpa perlu follow up RT-PCR. Atau yang kedua, dilakukan swab minimal dua kali dengan kedua hasilnya berturut-turut harus negatif.

“Bapak JD memilih untuk menjalani masa isolasi selama sepuluh hari di Wisma BKPSDM Babel. Hal ini pun sudah kami komunikasikan dengan Ketua DPRD Kabupaten Belitung dan beliau pun setuju dan mendukung penanganan yang akan dilakukan kepada Bapak JD,” jelasnya.

Dengan mulai berlakunya Pedoman Kelima, lanjut Mulyono, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan terus berkoordinasi dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Babel. “Penanganan bagi pasien konfirmasi bisa dilakukan secara mandiri di rumah, tanpa harus ditangani di wisma isolasi,” lanjutnya.

“Kedisiplinan pasien dan keluarga untuk memutus mata rantai penularan sangat diperlukan. Jika tanpa gejala klinis, edukasi dan pemantauan oleh petugas kesehatan dapat dilakukan melalui telepon selular,” jelas Mulyono.

Namun demikian, bila memang fasilitas untuk penangan mandiri di rumah tidak memadai, pasien dapat ditangani di fasilitas yang disiapkan oleh pemerintah. “Sebagai contoh di Kabupaten Belitung Timur. Setiap kecamatan memiliki rumah atau wisma untuk tempat isolasi pasien terkait Covid-19. Dan ini dikelola secara bersama dengan aparat pemerintah dan masyarakat setempat. Kerja sama yang sangat baik dan dapat diadopsi di daerah lain,” pungkas Mulyono.

Sumber: 
UPTD Balai Laboratorium Kesehatan
Penulis: 
Adinda Chandralela
Fotografer: 
Adinda Chandralela
Bidang Informasi: 
Dinkes