Risiko Kesehatan Anak Sekolah Terkait Perilaku/Kebiasaannya

PANGKALPINANG – Risiko kesehatan pada anak usia sekolah dan remaja seringkali terkait dengan faktor perilaku/kebiasaan anak tersebut. Demikian dikatakan oleh Hermain, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat memaparkan materi Penguatan Pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah melalui Model Sekolah Sehat dalam kegiatan Workshop Gerakan Fit for School di Hotel Puncak-Pangkalpinang. (19/09/2017)

“Semua perilaku tersebut merupakan faktor risiko bagi kesehatan. Dari faktor risiko tersebut berdampak pada timbulnya penyakit pada anak, antara lain diare, kecacingan, anemia, kurus, kegemukan, dan penyakit tidak menular lainnya,” ungkapnya.

Pada kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini, Hermain menjelaskan bahwa pada anak usia 10 -14 tahun (SD), perilaku yang mendukung pada kesehatan lebih terkait pada perilaku bersih hidup sehat  dan gizi, seperti tidak mencuci tangan pakai sabun (17,4%), buang air besar tidak di jamban (32,8%), tidak menggosok gigi (87,5%), mengonsumsi makanan berpenyedap (75%), kurang makan sayur dan buah (93.6%), dan lain-lain.

“Sedangkan pada usia remaja (SMP-SMA), perilaku tidak mendukung kesehatan lebih terkait pada gizi dan gaya hidup, misalnya konsumsi makanan siap saji ≥1 sebesar 54.4%, konsumsi soft drink ≥1 sebesar 28%, terpapar rokok 38%, dan masalah mental emosional remaja seperti merasa orang tua tidak mengerti (65,4%), merasa kesepian dan khawatir (46%), dan lain-lain,” lanjutnya.

Hermain menekankan masalah cara mengatasi maraknya pelajar yang merokok. Beliau mencontohkan Bogor dan Payakumbuh sebagai daerah yang tidak memperbolehkan iklan rokok beredar di wilayahnya. “Pemerintah lebih mementingkan dampak kesehatan terhadap masyarakat dibandingkan dengan Pendapatan Asli Daerah,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Bahuri, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan peran puskesmas dan sekolah dalam pendidikan kesehatan di sekolah. “Puskesmas berkoordinasi dengan sekolah pada saat umpan balik hasil penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala,” jelasnya. (19/09/2017)

“Pukesmas memberikan saran rujukan kepada Puskesmas untuk peserta didik yang memerlukan. petugas Puskesmas meminta sekolah untuk menginformasikan hasil penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala ke orang tua peserta didik dan saran rujukan tindak lanjut ke Puskesmas,” lanjutnya.

Menurutnya, model/sekolah sehat yang baik meliputi pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sehat. “Dalam kegiatan sarapan bersama, waktu pelaksanaan dimulai sebelum kegiatan belajar mengajar (pukul 07.00 pagi) dan dilaksanakan minimal dua kali seminggu,” tambahnya.

“Mekanisme pelaksanaannya dapat disosialisasikan  oleh kepala sekolah dan guru kepada orang tua siswa melalui rapat komite. Wali kelas mengalokasikan waktu minimal dua kali seminggu untuk melaksanakan sarapan bersama dengan menu sarapan  yang sesuai dengan pedoman gizi seimbang dan disiapkan oleh masing-masing orang tua/wali peserta didik,” jelasnya.

Selanjutnya, pada hari pelaksanaan, wali kelas meminta peserta didik untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum sarapan bersama, berdoa, sarapan/kudapan bersama, minum air putih, membuang sampah di tempatnya, serta sikat gigi sesudah sarapan bersama. Pada saat peserta didik sarapan, wali kelas memantau menu makanan yang dibawa oleh peserta didik dan memastikan menu makanan yang dibawa merupakan menu gizi seimbang.

Bahuri berharap peran peserta workshop yang terdiri atas pengelola Usaha Kesehatan Sekolah Dinas Kesehatan/Pengelola UKGS Dinas Kesehatan/pengelola UKS Dispendik/Puskesmas di sekolah untuk menyuarakan pentingnya kesehatan kepada peserta didik di sekolah masing-masing. (ACH)

Sumber: 
Humas Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Penulis: 
Adinda Chandralela
Fotografer: 
Adinda Chandralela
Tags: 
Fit For School

Berita