Pendekatan Komunikasi Organisasi dalam Kampanye Imunisasi MR Tahun 2018 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Masih ingat dengan pelaksanaan kegiatan Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) atau campak dan rubela tahun 2018 yang lalu? Pelaksanaan kegiatan ini mengalami hambatan hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Setelah Kampanye Fase I dan II usai, tercatat hanya 12 provinsi yang dapat mencapai target cakupan yang ditetapkan pemerintah, yaitu 95 persen. Provinsi dengan cakupan kurang dari 50 persen, yaitu tiga provinsi.

Untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hanya dua kabupaten yang dapat mencapai target yang ditentukan pemerintah (95 persen), yaitu Belitung Timur (98,27 persen) dan Belitung (95,27 persen). Untuk kabupaten lainnya, Bangka mencapai 73, 83 persen, Bangka Selatan 64,23 persen, Bangka Barat 60,25 persen, Pangkalpinang 51,44 persen, dan Bangka Tengah 40,73 persen. Secara keseluruhan, Kepulauan Bangka Belitung mencapai sekitar 67,37 persen, sedangkan rata-rata pencapaian nasional sebesar 73,15 persen. Dibandingkan dengan 28 provinsi pelaksana Kampanye Imunisasi MR Fase II, yaitu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menempati urutan ke-22. (Data Kemenkes RI)

Sekilas akan dijelaskan kendala yang terjadi dalam pelaksanaan Kampanye Imunisasi MR.

Beberapa hari sebelum pelaksanaan tanggal 01 Agustus 2018, beredar di masyarakat surat Ketua Majelis Ulama Indonesia Nomor B-904/DP-MUI/VII/2018 perihal Vaksin MR tanggal 25 Juli 2018, yang mengeluarkan pernyataan bahwa vaksin MR tidak halal. Hal ini tentu saja menimbulkan gejolak di masyarakat. Selain itu, berbagai konten negatif mengenai imunisasi MR bertebaran di media sosial, misalnya efek samping atau bahaya vaksin MR yang dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memandang perlu melakukan penundaan sementara kegiatan tersebut sampai dengan Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa vaksin Measles-Rubella (MR) boleh digunakan. Kebijakan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut disampaikan Wakil Gubernur pada saat pencanangan Kampanye Imunisasi Measles Rubella Provinsi Kepualauan Bangka Belitung dan Kabupaten Bangka Tengah di lapangan bola SD Negeri 4 Pangkalan Baru pada tanggal 1 Agustus 2018. Sebagai tindak lanjut kebijakan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membuat surat Nomor 440/1745/Dinkes/2018 tanggal 01 Agustus perihal Penundaan Sementara Pelaksanaan yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sementara Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengajukan surat kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 440/0294/Dinkes/2018 perihal Permohonan Klarifikasi tanggal 01 Agustus 2018 yang meminta pemerintah untuk memberikan kepastian mengenai Fatwa MUI tersebut.

Berbagai kontoversi dari berbagai pihak pun bermunculan. Tantangan terberat tidak hanya datang dari masyarakat. Berbagai penolakan tidak muncul dari masyarakat sendiri, melainkan juga dari tenaga kesehatan.

Untuk menahan gejolak masayarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dari organisasi dan instansi lain sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, kami akan mengulas pendekatan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam melakukan komunikasi organisasi, baik secara makro, mikro, dan individual.

Wilujeng & Handaka (2017:19) menjelaskan bahwa organisasi penting dalam komunikasi kesehatan karen dari sinilah produksi pesan komunikasi dimulai. Organisasi adalah institusi yang memiliki infrastruktur dan suprastruktur yang lengkap untuk menjalankan proses komunikasi. Organisasi adalah komunikator yang memiliki kekuatan dan sumber daya besar untuk mendesain berbagai pesan komunikasi kesehatan. Dinas Kesehatan memiliki struktur organisasi dari lini atas hingga ke bawah. Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjembatani antara pemerintah daerah dalam hal ini, kepala daerah dan jajarannya, hingga pesan komunikasi dapat sampai ke masyarakat.

Wilujeng & Handaka (2017:19) menjelaskan bahwa bila seluruh struktur dapat bekerja sesuai dengan fungsi masing-masing, pesan komunikasi dapat terdistribusi secara menyeluruh dan akurat. Demikian juga sebaliknya, bila organisasi tidak efektif, komunikasi akan berjalan tersendat. Peran komunikasi juga akan mengalami bia dan distorsif.

Romli (2011:20) menjelaskan bahwa untuk melihat komunikasi yang terjadi dalam suatu komunikasi organisasi, kita dapat menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan makro, mikro, dan individual.

1. Pendekatan Makro

Dalam berinteraksi, pendekatan makro organisasi dipandang sebagai suatu struktur global yang berinteraksi dengan lingkungannya. Tidak ada organisasi bergerak dalam keadaan terisolasi. Setiap organisasi dipengaruhi oleh aktivitas organisasi lain dalam lingkungannya (2011:21).

Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggaet MUI sebagai salah satu organisasi eksternal kunci dalam melancarkan pelayanan imunisasi MR. Hal ini ditunjukkan dengan penandatanganan komitmen bersama berupa dukungan agar semua masyarakat dan stakeholder yang terlibat mendukung dan menyukseskan Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Selain MUI, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga melakukan kerja sama dengan organisasi/instansi lainnya. Menilik target imunisasi MR ini adalah siswa-siswi sekolah di bawah usia 15 tahun, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga melakukan komunikasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota serta Kementerian Agama sebagai wadah pondok pesantren dan sekolah lainnya. Dukungan Dinas Pendidikan ditunjukkan dengan surat himbauan kepada sekolah untuk memberikan keleluasaan pelayanan imunisasi MR. Walaupun himbauan ini sepenuhnya bukan menjadi wewenang Dinas Pedidikan untuk menjadikan suatu kewajiban agar siswa-siswi di sekolah diberikan pelayanan imunisasi MR.

Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui Dinas Komunikasi dan Informatika serta Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebagai corong informasi pemerintan daerah, instansi ini dianggap dapat menjadi juru bicara kepada masyarakat. Instansi tersebut dapat menyebarkan informasi mengenai pelayanan imunisasi MR ini melalui fasilitas yang tersedia. Instansi ini ikut melakukan peliputan dan penerbitan berita hingga artikel yang dilakukan oleh Kepala Daerah dan jajarannya. Sebagai contoh, kunjungan Gubernur ke sekolah dan pasien terdeteksi rubela. Dengan demikian, masyarakat mengetahui dukungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terhadap pelayanan imunisasi MR ini.

Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga meminta dukungan dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Badan Kependudukan dan Perwakilan Keluarga Berencana Nasional Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung karena instansi tersebut memang terkait dengan ibu serta anak sekaligus, yang dapat dimasukkan dalam program terkait, yang merupakan alat organisasi.

Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga mendapatkan dukungan dari organisasi internasional, yaitu United Nations Children’s Fund (UNICEF), yang merupakan perpanjangan tangan PBB. Dengan didampingi organisasi ini, pelaksanaan pelayanan imunisasi MR dapat terpantau sehingga dapat diketahui kendala dan hambatan sehingga dapat diatasi semaksimal mungkin.

UNICEF memfasilitasi Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk memberikan semacam workshop kepada tenaga kesehatan puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan imunisasi MR ini.

Dalam pelaksanaan pelayanan di sekolah atau lokus yang diperkirakan akan menilbulkan hal yang tidak diinginkan, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan puskesmas juga meminta pendampingan dari TNI dan kepolisian setempat. Kerja sama ini sangat banyak membantu ketenangan dan kenyamanan petugas kesehatan dalam melaksanakan pelayanan.

Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga melakukan rapat koordinasi yang melibatkan lintas sektor serta lintas organisasi. Salah satu rakor tersebut juga menghadirkan Gubernur sebagai salah satu pembicaranya. (04/09/2018)

2. Pendekatan Mikro

Menurut Romli (2011:23), pendekatan ini terutama memfokuskan kepada komunikasi dalam unit dan subunit pada suatu organisasi. Komunikasi yang diperlukan pada tingkat ini adalah komunikasi antara anggota kelompok, komunikasi untuk pemberian orientasi dan latihan, komunikasi untuk melibatkan anggota kelompok dalam tugas kelompok, komunikasi untuk menjaga iklim organisasi, komunikasi dalam mensupervisi dan pengarahan pekerjaan, serta komunikasi untuk mengetahui rasa kepuasan kerja dalam organisasi.

Masih dalam Romli (2011:23), kadang-kadang organisasi perlu memberikan orientasi dalam latihan untuk melatih orang-orang dalam suatu organisasi agar dapat melakukan suatu pekerjaan tertentu. Untuk melakukan aktivitas latihan ini, memerlukan komunikasi. Misalnya, untuk menjelaskan bagaimana suatu suatu pekerjaan seharusnya dilakukan dengan berkomunikasi.

Dalam pelatihan yang dimotori oleh UNICEF dan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, para tenaga kesehatan mendapat pembelajaran mengenai strategi berkomunikasi dengan masyarakat, terutama bagi yang memandang negatif pelayanan ini. Dengan didampingi oleh narasumber berskala nasional, para tenaga kesehatan menerima trip dan trik cara berkomunikasi dengan baik. Dengan segala keterbatasan, kegiatan ini dilakukan pada kabupaten yang memiliki sasaran terbanyak, yaitu Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang.

Selain untuk tenaga kesehatan, UNICEF dan Dinas Kesehatan juga menyelenggarakan workshop untuk para awak dan penggiat media, baik media cetak maupun elektronik, yang tersebar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Workshop ini dimaksudkan untuk menggiatkan pemberitaan yang nyata, persuasif, dan berimbang selama dan setelah pelaksanaan Kampanye MR serta memberikan liputan pemberitaan sesuai kode etik jurnalistik terkait dengan isu vaksin yang beredar di Indonesia.

Dengan kegiatan ini, diharapkan peran serta media dalam menyampaikan informasi dan sosialisasi kampanye imunisasi MR di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mulai dari tahp persiapan, pelaksanan, pelaksanaan, hingga monitoring secara baik dan benar dalam mendukung program pemerintah.

Untuk kedua workshop ini, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan UNICEF melibatkan keluarga penderita sindrom kongenital rubela.

3. Pendekatan Individual

Romli (2011:25) menjelaskan bahwa pendekatan individual kepada tingkah laku komunikasi individual dalam organisasi. Semua tugas yang telah diuraikan pada kedua penedekatan yang terdahulu akhirnya diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama lainnya. Komunikasi individual ini ada beberapa bentuk, di antaranya berbicara dalam kelompok kerja, mengunjungi dan berinteraksi dalam rapat, menulis dan mengonsep surat, memperdebatkan suatu usulan dan sebagainya. Setiap orang mempunyai karakter tertentu dan dalam hal ini perlu diperhatikan agar berhasil dalam melibatkan mereka dalam pekerjaan kelompoknya.

Dalam kasus ini, persona individu yang paling berperan adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto; Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P), Muhammad Henry; serta Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi, Muhammad Rais Haru. Para pembicara tersebut memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik, terutama berbicara dalam suatu forum pertemuan dan penyuluhan. Untuk memengaruhi audiens hingga dapat menimbulkan perubahan perilaku, para pembicara dituntut memiliki kompetensi dan menguasai materi terkait Kampanye Imunisasi MR.

Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan pertemuan dan penyuluhan secara maraton dari sekolah ke sekolah, pesantren ke pesantren, hingga ke pengajian. Dengan padatnya kegiatan tersebut, mereka harus mengatur jadwal secara bergantian mengisi materi.

Tidak jarang dalam suatu pertemuan, terjadi perdebatan dan perselisihan. Dengan penguasaan materi yang baik, kemampuan untuk mengambil keputusan dalam suatu aktivitas akan lebih mudah dijalani.

Selain itu,kemampuan untuk menulis, termasuk mengonsep surat sangat dibutuhkan dalam kepentingan berorganisasi. Tentunya dalam pelaksanaan Kampanye Imunisasi MR, banyak situasi yang mengharuskan keterampilan mengonsep surat dalam berhubungan dengan organisasi lain.

Kombinasi antara pendekatan makro, mikro, dan individual dapat dipadupadankan sesuai dengan kebutuhan. Pelaku organisasi harus jeli menentukan pendekatan yang akan digunakan saat terjadi masalah. Suatu organisasi memiliki suatu sistem terbuka sehingga sifat kedinamisan harus siap dijalankan oleh pelaku organisasi. Apalagi dengan teknologi informasi yang terus berkembang sehingga pelaku organisasi harus dapat menjalankan komunikasi organisasi dengan mempertimbangkan teknologi dan metode kekinian setiap saat.

 

Pustaka:

Pasolong, Harbani. Metode Penelitian Administrasi Publik. 2012. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Rand, Paul M. Highly Recommended. Harnessing the Power of Word and Social Media to Build Your Brand and Your Business. 2013. Amerika Serikat: McGraw-Hill Education.

Romli, Khomsarial. Komunikasi Massa. 2016. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

__________. Komunikasi Organisasi Lengkap. 2011. Jakarta: PT Grasindo.

Wilujeng, Catur Saptaning & Handaka, Tatag. Komunikasi Kesehatan: Sebuah Pengantar. 2017. Malang: UBPress.

Penulis: 
Adinda Chandralela | Pranata Humas Muda
Sumber: 
Sekretariat