Pelaksanaan Pengukuran Kebugaran Jasmasni bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)

Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan pekerja dengan usia produktif yang membutuhkan kebugaran jasmani yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.Hal ini selaras dengan tema peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-55 tanggal 12 November 2019, yaitu menciptakan “Generasi Sehat, Indonesia Unggul”. Untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani, perlu dilakukan pengukuran kebugaran jasmani. Pengukuran ini juga bertujuan untuk meningkatkan kebugaran ASN dalam mewujudkan ASN yang produktif serta penerapan gaya hidup sehat.

Peningkatan kebugaran jasmani bertujuan meningkatkan stamina dan status kesehatan seseorang dapat dicapai dengan menambah aktivitas fisik dan latihan fisik/olahraga secara baik, benar, terukur, dan teratur. Untuk mengetahui peningkatan kebugaran jasmani seseorang, dapat dilakukan minimal 2 kali pengukuran kebugaran jasmani dengan rentang waktu minimal 3 bulan dimana dilakukan upaya peningkatan kebugaran jasmani (Kemenkes, 2017).

Salah satu metode yang digunakan untuk pengukuran kebugaran jasmani ASN adalah Rockport. Berdasarkan hasil kajian para ahli, metode ini mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan sarana dan prasarana khusus sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan latihan fisik dengan jarak yang pasti, murah, dan dapat dilakukan secara massal.

Sebelum melakukan pengukuran kebugaran jasmani, peserta mengisi formulir Physical Activity Readiness Questionaire & You atau yang dikenal dengan formulir PAR-Q & You. Apabila ada jawaban peserta ada yang menjawab “ya”, harus dikonsultasikan ke dokter pengukuran, apakah layak mengikuti Tes Rockport. Bila tidak layak, yang bersangkutan akan mengikuti Tes Jalan 6 Menit. Perbedaannya, jika pada tes Rockport kita mengukur berapa waktu yang didapat setelah menempuh jarak 1,6 km; pada Tes Jalan 6 Menit, kita mengukur berapa jarak yang ditempuh setelah berjalan 6 menit.

Kartu Menuju Bugar (KMB) merupakan kartu berisi catatan tentang biodata peserta pengukuran, kategori VO2 Max sesuai waktu, kategori kebugaran, grafik pencatatan selama 1 tahun dan jenis latihan sesuai kategori kebugaran. KMB ini dibedakan sesuai dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Sistem informasi secara elektronik pengukuran data kesehatan jasmani belum ada secara standar. Para pelaksana kegiatan pengukuran di lapangan yang masing masing memiliki inovasi tersendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2019 ini sudah menyusun sistem informasi online pengukuran kebugaran jasmani. Sistem ini merupakan inovasi pengelola program kesehatan kerja dan olahraga beserta pengelola data dan informasi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Melalui sistem ini data kesehatan yang merupakan hasil pemeriksaan posbindu faktor risiko PTM dan data pengukuran kebugaran dapat disimpan dan dilihat oleh masing-masing ASN maupun oleh atasan langsung.

Tujuan utama adalah untuk memudahkan pelaksanaan pengukuran kebugaran jasmani serta tersedianya histori data kebugaran dan kesehatan ASN, sehingga dapat dipantau perkembangan kesehatan dan kebugaran ASN.

Sistem ini belum dipublikasikan kepada khalayak, namun sudah di perkenalkan kepada plt. Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada acara Sosialisasi Gerakan Tekan Obesitas (GENTAS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tanggal 08 November 2019 di Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.

Pada tanggal 01 November 2019 bertepatan dengan pengukuran kebugaran jasmani ASN Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah mulai di ujicoba, tetapi belum terintegrasi pada semua meja pemeriksaan.

Berikut screenshoot aplikasi pengukuran kebugaran jasmani ASN tersebut.

Hasil pengukuran kebugaran jasmani ASN telah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 01 November 2019 di Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jumlah sasaran 132 ASN. Jumlah yang mengikuti pengukuran hanya 76 ASN. Hal ini disebabkan ada ASN yang dinas luar, tugas belajar, sakit, dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Dari 76 ASN yang mengikuti pengukuran terdiri dari 22 laki-laki dan 54 perempuan. ASN yang mengikuti tes Rockport sebanyak 52 orang dan Tes jalan 6 menit sebanyak 21 orang.

Hasil pengukuran kebugaran jasmani ASN tanggal 15 November 2019 di Rumah Sakit Jiwa Daerah. Jumlah sasaran 227 ASN. Jumlah yang mengikuti pengukuran hanya 125 ASN. Hal ini disebabkan ada ASN yang dinas luar, sakit, dan tidak bisa meninggalkan pertemuan. 125 ASN yang mengikuti pengukuran terdiri dari 44 laki-laki dan 81 perempuan. ASN yang mengikuti tes Rockport sebanyak 81 orang dan tes jalan 6 menit sebanyak 44 orang. Ada 5 ASN yang gagal mengikuti tes, 3 diantaranya sedang hamil. Dari beberapa masalah yang ditemukan pada setiap tahapan pengukuran, penulis mencoba mengemukakan solusi permasalahannya.

  1. Untuk permasalahan perencanaan, masalah usulan dana harus didukung data hasil pengukuran kebugaran ASN yang sudah dilakukan dan dampak yang ditimbulkan bila ASN tidak bugar sehingga akan membuka mata para stakeholder akan pentingnya kegiatan ini. Untuk tim pengukuran, bila tidak ada honorarium dapat digantikan dengan memberikan seragam atau souvenir bagi mereka.
  2. Untuk tingkat partisipasi, harus ada sosialisasi terlebih dahulu kepada seluruh ASN, ”pemaksaan” dari atasan berupa memo agar seluruh ASN tidak melaksanakan dinas luar atau kegiatan pada hari pelaksanaan kegiatan sampai dengan pemberian souvenir atau reward menarik bagi yang ikut serta.
  3. Untuk sarana lintasan dapat menggunakan jalur yang sepi lalau lintas atau menyiapkan dana anggaran sewa untuk gelanggang olahraga.
  4. Untuk masalah pembinaan menjadi masalah yang krusial, sehebat apa pun program tetapi bila tidak dimonitor maupun dievaluasi maka tidak akan kita tahu seberapa efektif program tersebut menunjang pembangunan kesehatan.

Bila hanya selembar KMB saja yang menunjukkan perkembangan kesehatan dan kebugaran ASN, maka bisa saja KMB tersebut hilang ataupun rusak. Atasan tidak bisa menggunakan data kesehatan dan kebugaran ASN bawahan untuk meningkatkan kinerja. Tidak bisa melihat apakah status kesehatan mereka bermasalah. Bahkan tidak bisa mendukung ASN untuk menjaga kesehatan dan kebugaran masing-masing.

Pengelola program sudah mencoba membuat aplikasi online untuk penyimpanan data kesehatan dan kebugaran ASN sehingga data tersebut bisa dipantau oleh ASN sendiri dan oleh atasan langsung. Sebagai contoh, atasan akan mengetahui siapa saja yang belum melakukan pengukuran kebugaran serta kesehatan bermasalah.

ASN juga bisa memantau perkembangan status kesehatan dan kebugaran sendiri. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua ASN melaksanakan bimbingan kesehatan kerja bagi kebugaran pekerja dalam hal ini bagi para ASN.

 

Penulis

ZULFIKRI TABRANI, SKM

NIP. 197704072005011008

Pembimbing Kesehatan Kerja Muda

 

Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Pedoman Kesehatan Olahraga. Jakarta: 2002. 2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014, Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Ind  onesia Nomor 5494);

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga: Petunjuk Teknis Pengukuran Kebugaran Jasmani Terintegrasi Bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Kesehatan: 2017

Penulis: 
Zulfikri Tabrani | Editor: Adinda Chandralela
Sumber: 
Bidang Kesehatan Masyarakat

Artikel

06/06/2020 | Sekretariat
04/03/2020 | Bidang Kesehatan Masyarakat
28/01/2019 | Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
31/12/2018 | Zulfikri Tabrani, SKM | Pembimbing Kesehatan Kerja Muda
22/09/2014 | RSU Provinsi
18/12/2019 | Zulfikri Tabrani, Editor: Adinda Chandralela