MENYIBAK KUESIONER SEKSUALITAS

    1.   Pendahuluan

Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan dengan adanya berita tentang kuesioner yang di dalamnya terdapat pertanyaan tentang kondisi kesehatan reproduksi remaja, sebagai bahan penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi / seksualitas remaja. Kuesioner tersebut menjadi polemik, karena di dalamnya terdapat pertanyaan tentang ukuran payudara dan penis para siswa. Pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi sudah menjadi suatu hal yang lumrah bagi mereka yang bergerak di bidang kesehatan, tetapi tentu hal tersebut masih dianggap sesuatu yang tabu dibicarakan dalam budaya ketimuran di Indonesia.

Upaya peningkatan kesehatan reproduksi telah menggulirkan Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) merupakan salah satu program yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI dan Kementerian lainnya serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)1 yang peduli pada kesehatan reproduksi, seperti Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)2 dan Palang Merah Indonesia (PMI). Program ini sebagai wujud kepedulian atas pentingnya pemahaman kesehatan reproduksi pada remaja yang meliputi hampir 1/4 jumlah populasi penduduk.2 Rendahnya kualitas kesehatan remaja akan berdampak pada penurunan derajat kesehatan masyarakat pada masa yang akan datang.

Survey atau penelitian tentang KRR telah banyak dilakukan guna mendapatkan gambaran kondisi kesehatan reproduksi remaja dan berdasarkan data-data tersebut dapat direncanakan intervensi serta upaya-upaya pencegahan terhadap berbagai masalah KRR yang ada. Meskipun demikian, penelitian atau pengumpulan data tersebut harus memenuhi etika dan norma tertentu yang telah disepakati secara internasional.

    2.   Prinsip dalam Etika Penelitian Kesehatan

Etika penelitian kesehatan merupakan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi setiap orang atau institusi yang melakukan penelitian di bidang kesehatan dengan tetap menghargai setiap subjek penelitian sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai harkat dan martabat yang tinggi.3 Etika penelitian kesehatan ditetapkan dalam Deklarasi Helsinki 1964 yang mempunyai minimal 4(empat) prinsip, sehingga penelitian yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan dari segi ilmiah, moral dan etika yang berdasarkan Ketuhanan dan Perikemanusiaan.4

Prinsip pertama adalah menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity). Dalam prinsip ini, setiap peneliti harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari subjek untuk mengumpulkan dan menggunakan data yang diberikan kepada peneliti. Subjek penelitian harus diberikan informasi lengkap tentang manfaat penelitian, kemungkinan risiko dan ketidaknyamanan yang timbul, prosedur yang digunakan, manfaat bagi subjek sendiri dari penelitian tersebut, adanya jaminan setiap subjek dapat menolak atau mengundurkan diri kapan saja serta jaminan anominitas dan kerahasiaan. Oleh karena itu, kuesioner sebaiknya dibagikan dalam amplop tertutup setelah para siswa dijelaskan tentang manfaat dan prosedur pengumpulan data serta memberi persetujuan tertulis untuk memberikan data yang dibutuhkan. Selanjutnya kuesioner dikembalikan kepada pengumpul data dalam amplop yang tertutup pula. Pengumpulan data tidak boleh dilakukan bila siswa yang bersangkutan tidak setuju untuk memberikan data yang dibutuhkan, sehingga mewajibkan setiap siswa baru untuk memberikan data yang dibutuhkan dapat digolongkan pada pelanggaran etika dan norma penelitian.

Prinsip kedua adalah menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (respect for privacy and confidentiality). Data yang diberikan setiap siswa SMP pada kasus di Kota Sabang harus dijamin kerahasiaannya dan setiap kuesioner diberi kode, sehingga informasi apapun yang berkaitan dengan identitas subjek tidak ditampilkan, apalagi dalam kuesioner yang didistribusikan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan tersebut terdapat data-data yang berkaitan dengan bentuk fisik subjek yang bersifat privasi.

Prinsip ketiga adalah  keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness). Penelitian harus dilakukan secara jujur, hati-hati, professional, berperikemanusiaan dan memperhatikan ketepatan, keseksamaan, kecermatan, psikologis dan religious subjek. Data-data yang dikumpulkan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok peneliti, tetapi untuk kepentingan yang lebih luas demi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Prinsip keempat adalah memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing harms and benefits). Penelitian dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian yang tidak melanggar etika dan norma guna mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal mungkin dan dapat digeneralisasikan di tingkat populasi serta meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subjek. 5

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, maka sudah sewajarnya bila para pemerhati masalah kesehatan reproduksi memperhatikan masalah etika penelitian sebelum melaksanakan penelitiannya. Mereka sebelum melakukan penelitian harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) sebagai pengawas etika penelitian kesehatan sebagaimana diatur oleh World Medical Assembly (WMA) tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah nomor 39 tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.6

    3.   Kesimpulan dan saran

Pembentukan Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) perlu dilakukan, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, karena setidaknya di Bangka Belitung terdapat 8 (delapan) institusi pendidikan kesehatan dan 18 (delapan belas) jenis jabatan fungsional kesehatan yang secara rutin melakukan berbagai penelitian di bidang kesehatan. Kita berharap apa yang terjadi penolakan masyarakat terhadap berbagai penelitian di bidang kesehatan, terutama yang berkaitan dengan unsur tabu, adat ketimuran yang telah terjadi akan menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu memperhatikan etika dan norma yang ada dalam berbagai kegiatan pengumpulan data atau penelitian sebagai wujud pemahaman kita terhadap harkat dan martabat manusia.

Penulis: 
Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.
Sumber: 
Kesmas

Artikel

27/01/2017 | Sayang Permatasari, S.Kep.
13/03/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med
13/10/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.
13/05/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.
13/07/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.