MENILIK KUALITAS AHLI GIZI DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pada tanggal 7 Maret 2014, Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Propinsi Kepulauan Bangka Belitung menyelenggarakan Seminar Ilmiah Gizi. Seminar ini merupakan seminar pertama yang diselenggarakan oleh DPD-PERSAGI sejak Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dibentuk pada tanggal 21 November 2000 dengan Undang-Undang nomor 27 Tahun 2000. Seminar Pertama ini diselenggarakan dalam rangka Peringatan Hari Gizi Nasional ke 54 Tahun 2014 dengan tema “Gizi Baik, Kunci Keberhasilan Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional” yang diperingati setiap tanggal 25 Januari 2014. Narasumber yang hadir dalam seminar iniadalah dr. Basuri Tjahaya Purnama, M. Gizi, Sp.GK (Bupati Belitung Timur), Ir. Dody Iswardy, MA (Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI), Dr. Minarto, MPS (Ketua Umum DPP PERSAGI) dan drg. Mulyono Susanto, MHSM (Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung) yang mengangkat berbagai isu termutakhir yang terkait gizi.

Ahli gizi adalah mereka yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan akademik dalam bidang gizi sesuai aturan yang berlaku, mempunyai tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh untuk melakukan kegiatan fungsional dalam bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetic, baik di masyarakat, individu atau rumah sakit. Dalam melaksanakan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya, maka seorang Ahli Gizi dituntut untuk memenuhi kompetensi yang telah ditentukan guna menjamin pemberian pelayanan secara optimal kepada setiap klien yang ada. Ahli Gizi termasuk dalam rumpun tenaga kesehatan sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 1996.

Peranan Ahli Gizi sangat penting dalam pelayanan kesehatan dasar, karena Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat merupakan salah satu dari 6 upaya kesehatan wajib yang harus diselenggarakan oleh setiap Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) yang ada. Berdasarkan Riset Fasilitas Kesehatan tahun 2011, walaupun sudah 100% Puskesmas di Propinsi Bangka Belitung melaksanakan upaya perbaikan gizi masyarakat, tetapi hanya 59,6% Puskesmas di Propinsi Bangka Belitung yang mempunyai ruangan konseling gizi. Ruang konseling gizi sangat penting fungsinya dalam memberikan edukasi bagi klien dalam upaya perbaikan gizi individu.

Rifaskes 2011, juga menunjukkan bahwa rata-rata tenaga gizi yang ada di setiap Puskesmas yang ada di Propinsi Bangka Belitung sebanyak 1,47 orang per puskesmas. Hal ini berarti bahwa di setiap Puskesmas telah terdapat minimal 1 orang tenaga gizi dan 16,7% dari tenaga gizi tersebut masih memiliki pendidikan Diploma I Gizi atau SPAG. Program perbaikan gizi masyarakat yang dikelola oleh penanggung jawab yang sesuai dengan latar pendidikan gizi di Propinsi Bangka Belitung masih sekitar 91,2% dan masih terdapat 8,8% penanggung jawab program perbaikan gizi yang tidak memiliki latar pendidikan gizi.

Menurut Kepmenkes RI nomor 374/Menkes/SK/III/2007 tanggal 27 Maret 2007,pendidikan terendah untuk Ahli Gizi adalah pendidikan Diploma III Gizi, sehingga perlu dilakukan peningkatan pendidikan tenaga gizi yang ada, termasuk di tingkat Puskesmas. Pemberian pelayanan gizi, makanan dan dietetic yang optimal merupakan tugas, tanggung jawab dan wewenang penuh secara fungsional oleh Ahli Gizi dengan pendidikan minimal Diploma III Gizi.Pelayanan gizi adalah suatu upaya memperbaiki atau meningkatkan gizi, makanan, dietetic masyarakat, kelompok, individu atau klien yang merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, kesimpulan, anjuran, implementasi dan evaluasi gizi, makanan dan detetik dalam rangka mencapai status kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau sakit.

Penempatan tenaga Ahli Gizi di seluruh lini pelayanan kesehatan, terutama Puskesmas sangat dibutuhkan sesuai dengan standar profesi gizi yang telah ditetapkan. Program perbaikan gizi masyarakat sebaiknya dikelola oleh Penanggung Jawab minimal berpendidikan Diploma III Gizi. Meskipun demikian, dengan kompleksnya permasalahan gizi yang ada di masyarakat, keberadaan Tenaga Gizi tersebut masih dirasakan kurang memberikan kontribusi lebih terhadap upaya perbaikan gizi masyarakat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013 menunjukkan bahwa angka proporsi anak dengan berat badan < 2.500 gr dan panjang badan lahir < 48 cm di Bangka Belitung masih sedikit lebih tinggi dari angka proporsi nasional sebesar 4,3%. Angka proporsi obesitas sentral di Bangka Belitung juga mengalami peningkatan pada tahun 2013 dengan menduduki peringkat ke 4 secara nasional. Jumlah penduduk yang gemuk di Bangka Belitung juga mengalami peningkatan pada tahun 2013 yang menunjukkan semakin kompleksnya masalah gizi ganda di propinsi ini.

Masalah gizi yang ada di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya terkait pada factor konsumsi dan factor infeksi saja, tetapi juga pada factor perilaku masyarakatnya terhadap makanan bergizi dan seimbang. Kemampuan seorang Ahli Gizi dalam memadukan berbagai sumber daya yang ada untuk mengatasi masalah gizi, makanan dan dietetic sangat dibutuhkan,terutama di Puskesmas yang mempunyai konsep wilayah dan konsep pemberdayaan masyarakat. Pendidikan Diploma III Gizi yang lebih menekankan kemampuan seorang Ahli Gizi dalam melaksanakan tugas-tugas rutin, dan tugas-tugas pelaksana pelayanan gizi masyarakat, perlu lebih menyeimbangkan kemampuan di bidang akademik dengan kemampuan dalam penerapan di lapangan. Kemampuan akademik diharapkan mampu membawa Ahli Gizi terhadap pola berpikir kritis terhadap masalah yang ada, dan mencari pemecahan masalah dengan penerapan yang “tidak biasa”, karena pemecahan yang umum dilakukan telah terbukti tidak memberikan manfaat yang tinggi untuk menyelesaikan masalah.

Kualitas Ahli Gizi di Propinsi Bangka Belitung masih perlu ditingkatkan, dengan berbagai masalah gizi yang semakin komplek. Peningkatan kualitas Ahli Gizi juga dinyatakan dalam Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi dengan menempatkan minimal 1 orang tenaga Ahli Gizi berpendidikan minimal Diploma III Gizi di setiap Puskesmas yang ada. Ketersediaan Ahli Gizi yang berkualitas tersebut diharapkan mampu menurunkan prevalensi gizi buruk yang ada dan masalah-masalah gizi lainnya di masyarakat. Kegiatan seminar, pelatihan, bimbingan teknis dan berbagai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas Ahli Gizi masih harus banyak dilakukan, baik di Tingkat Propinsi dan Kabupaten / Kota.

Peranan Institusi Pendidikan dalam mempersiapkan tenaga Ahli Gizi yang mumpuni sangat dibutuhkan. Propinsi Kepulauan Bangka Belitung telah mempunyai pendidikan Diploma III Gizi melalui Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang dan telah meluluskan sejumlah Ahli Madya Gizi yang masih akan diuji kemampuannya di lapangan kerja yang tersedia. Peranan Organisasi Profesi, Persatuan Ahli Gizi Indonesia Daerah Bangka Belitung juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas anggotanya dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan yang terakreditasi. Tuntutan setiap Ahli Gizi untuk mengumpulkan paling sedikit 25 SKP guna pengurusan Surat Tanda Registrasi (STR) Ahli Gizi setiap 5 tahun sekali, akan menyebabkan setiap Ahli Gizi berupaya meningkatkan kualitas profesionalitasnya. Meskipun demikian, peningkatan kualitas tidak hanya menjadi tujuan dari institusi pendidikan yang mencetak sumber daya Ahli Gizi, Persagi yang menjadi organisasi naungan para Ahli Gizi, dan para pengguna jasa yang mempekerjakan Ahli Gizi, tetapi yang lebih penting adalah timbulnya kemauan dari Ahli Gizi yang bersangkutan untuk terus meningkatkan kualitas profesionalitasnya. Semoga dengan aktifnya, DPD Persagi Bangka Belitung, mampu memicu peningkatan kualitas Ahli Gizi di Propinsi Bumi Laskar Pelangi ini.

Penulis: 
Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med
Sumber: 
Kesmas

Artikel

27/01/2017 | Sayang Permatasari, S.Kep.
13/03/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med
13/10/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.
13/05/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.
06/04/2018 | Muhammad Fatur Rahman, SST.,M.Kes