Kadinkes: Putuskan Mata Rantai Penularan Malaria

PANGKALPINANG – Hasil penyelidikan epidemiologi malaria dan pemetaan fokus merupakan salah satu langkah utama dalam memutuskan mata rantai penularan malaria. Hal ini diungkapkan oleh Mulyono Susanto, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat membuka kegiatan Sosialisasi Penyelidikan Epidemiologi Kasus Malaria dan Pemetaan Fokus bagi Kabupaten Tahap Eliminasi di Hotel Sun-Pangkalpinang. (22/08/2017)

“Hingga saat ini, malaria menjadi salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini merupakan salah satu penyumbang cukup besar terhadap angka kesakitan dan angka kematian terhadap penduduk berisiko dan dapat menurunkan produktivitas kerja,” jelasnya.
Kepala Dinas Mulyono juga menjelaskan bahwa malaria menjadi program prioritas dalam RPJMN tahun 2015-2019 dan rencana strategis Kementerian Kesehatan. “Tujuan akhir dari pengendalian penyakit malaria adalah suatu saat penyakit malaria tidak menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Beliau melanjutkan bahwa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, masih ada dua kabupaten yang belum menerima sertifikat eliminasi malaria, tetapi sudah mencapai tahap eliminasi. “Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Tengah memiliki API kurang dari satu per seribu penduduk. Masing-masing 0,12 per seribu penduduk dan 0,02 per seribu penduduk,” katanya.
“Saat ini, prioritas kita adalah mengeliminasi setiap wilayah Provini Kepulauan Bangka Belitung. Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Tengah harus dapat menyusul kabupaten/kota lainnya untuk mendapat sertifikat eliminasi malaria sehingga tujuan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat kita capai,” harapnya. 

Syaifullah, pengelola program malaria mengatakan bahwa penyelidikan epidemiologi merupakan rangkaian kegiatan investigasi dan pengamatan untuk memperoleh informasi yang cepat dan akurat tentang sumber penularan. “Klasifikasi kasus, luasnya penularan, kebiasaan, perilaku masyarakat berkaitan dengan proses penularan malaria dan situasi vektor,” jelasnya.
“Oleh karena itu, kami menggandeng Lembaga Eijkman (Eijkman-Oxford Clinical Research Unit), untuk memberikan bimbingan kepada para peserta sosialisasi yang  merupakan petugas puskesmas,  mengenai riset pemetaan fokus dalam program pengendalian malaria ini,” lanjutnya.

Syaifullah juga menjelaskan bahwa selain melalui paparan dan diskusi serta tanya jawab, pemberian materi dilakukan juga dengan praktik lapangan untuk mengimplementasikan penggunaan aplikasi QGIS untuk membuat peta fokus. Adapun praktik tersebut dilakukan di daerah Desa Tanjung Gunung Kabupaten Bangka Tengah.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama empat hari (22-25 Agustus 2017), beliau berharap peserta sosialisasi yang berasal dari puskesmas ini nantinya dapat menjadi tim pelaksana penyelidikan epidemiologi di puskesmasnya masing-masing. (ACH)

 

Sumber: 
Humas Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Penulis: 
Adinda Chandralela
Fotografer: 
Adinda Chandralela