Kadinkes Babel: Perkuat Audit Maternal Perinatal (AMP) Terintegrasi dalam Surveilans Kematian Ibu

PANGKALPINANG – Perkuat Audit Maternal Perinatal (AMP) terintegrasi dalam surveilans kematian ibu untuk menangani masalah kematian ibu dan bayi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Demikian dijelaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto dalam rilis pramasnya. (25/04/2019) 

“Surveilans kematian ibu merupakan pengumpulan, pengolahan, analisis data kesehatan secara sistematis dan terus-menerus. Dan tentunya diseminasi informasi tepat waktu kepada pihak yang perlu mengetahui sehingga dapat diambil tindakan yang tepat,” jelas Mulyono.

Untuk itu, menurut Mulyono, dalam melakukan pengamatan secara teratur dan terus-menerus terhadap kejadian kematian ibu hamil, bersalin, dan nifas serta kematian bayi, tim surveilans kabupaten/kota yang bekerja sama dengan pengelola kesehatan keluarga perlu direview kembali.

“Tim surveilans kabupaten/kota menyampaikan informasi terkait kematian ibu dan bayi kepada tim surveilans provinsi. Nantinya, faktor penyebab kematian ibu dan bayi diidentifikasi dan dikaji. Informasi yang sudah didapat akan diteruskan untuk proses audit di tingkat kabupaten/kota,” jelas Mulyono.

Lebih lanjut, Mulyono menjelaskan bahwa berdasarkan hasil Survei Penduduk Antarsensus (SUSPAS) tahun 2015, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup. “Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, Angka Kematian Neonatus (AKN) sebesar 15 per 1.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 24 per 1.000 kelahiran hidup,” jelas Mulyono.

Sementara Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Bahuri, menjelaskan bahwa pada tahun 2018, di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kematian ibu terdapat 44 kasus, dengan penyebab perdarahan 11, hipertensi dalam kehamilan preeklamsia dan eklamsia 13, infeksi 1,dan  lain-lain 9.

“Kematian neonatal berjumlah 126 kasus dengan 41 kasus kematian akibat berat badan lahir rendah (BBLR), 28 kasus asfiksia, 3 kasus sepsis, 15 kasus kelainan bawaan, dan 39 kasus penyebab lain. Kematian bayi usia 29 hari sampai dengan 12 bulan terjadi 40 kasus dan kematian balita 28 kasus,” rincinya.

Bahuri mengatakan bahwa diperkirakan lima belas persen kehamilan dan persalinan akan mengalami komplikasi. “Sebagian komplikasi ini dapat mengancam jiwa ibu, tetapi sebagian besar komplikasi ini dapat dicegah dan ditangani apabila ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan,” jelasnya.

 Oleh karena itu, lanjut Bahuri, tenaga kesehatan harus mampu melakukan prosedur penanganan yang sesuai dan melakukan identifikasi dini komplikasi kebidanan. “Apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan proses rujukan efektif sehingga ibu dengan komplikasi dapat segera mendapatkan pelayanan di rumah sakit yang cepat dan tepat guna sebagai upaya untuk mencegah kematian ibu,” pungkasnya. (ACH)

Sumber: 
Bidang Kesehatan Masyarakat
Penulis: 
Adinda Chandralela
Bidang Informasi: 
Dinkes