Kadinkes Babel: Gizi 1000 HPK itu Penting

PANGKALAN BARU - Terpenuhinya kebutuhan gizi terutama pada periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK) itu penting. Demikian diungkapkan oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, yang diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto saat membuka Seminar Gizi di Hotel Santika. (28/10/2019)

“Periode kehamilan hingga anak berusia dua tahun merupakan kesempatan emas dalam mencetak generasi berkualitas bebas stunting dan masalah gizi lainnya,” jelasnya.

Intervensi pada periode ini, lanjut Mulyono, tidak boleh diabaikan karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang. “Sebagai investasi utama pengembangan sumber daya manusia, pembangunan kesehatan yang berkelanjutan mutlak diperlukan, dimana salah satu komponen utamanya adalah melalui perbaikan gizi masyarakat, terutama pada periode 1000 HPK,” jelasnya.

Menurut Mulyono, stunting merupakan kekurangan gizi kronis akibat kekurangan asupan zat gizi dalam waktu yang lama. “Biasanya diikuti dengan frekuensi sering sakit, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengasuhan, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan,” tambahnya.

“Prevalensi stunting di Indonesia selama setahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera,” jelasnya.

“Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi balita stunting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 28,66 persen. Dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2018, prevalensi stunting menurun. yaitu 23,4 persen. Kabupaten dengan stunting tertinggi berdasarkan Riskesdas tahun 2018 adalah Kabupaten Bangka Selatan, yaitu 34,59 persen,” ungkapnya.

Sementara Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bahuri menjelaskan bahwa kekurangan gizi yang terjadi pada masa janin dan anak usia dini akan berdampak pada perkembangan otak dan rendahnya kemampuan kognitif. “Hal ini dapat memengaruhi prestasi belajar dan keberhasilan pendidikan,” lanjutnya.

Selain itu, lanjut Bahuri, kurang gizi yang dialami pada awal kehidupan juga berdampak pada peningkatan risiko gangguan metabolik yang berujung pada kejadian penyakit tidak menular pada usia dewasa, misalnya diabetes tipe II, stroke, dan penyakit jantung.

“Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak pada menurunnya produktivitas yang selanjutnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat. Oleh karena itu, peranan gizi, terutama 1000 HPK sangat penting dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal,” pungkasnya.

Kegiatan Seminar ini juga mengundang narasumber dari Klaten-Jawa Tengah untuk berbagi pengalaman dan ilmu mengenai peran tenaga kesehatan dan kader kesehatan dalam menangani kesadaran masyarakat untuk memenuhi gizi selama 1000 HPK.

Sumber: 
Bidang Kesehatan Masyarakat
Penulis: 
Adinda Chandralela
Fotografer: 
Adinda Chandralela
Bidang Informasi: 
Dinkes