Feature: Mushola Sebelah Wisma Karantina Covid-19 Badiklat Babel

Jarang tampak ada jemaah yang sholat di sini. Hanya satu dua orang yang datang.  Dan itu pun mungkin selalu wajah yang sama. Padahal, sebelum covid-19 mewabah dan Wisma Karantina beroperasi, mushola ini selalu ramai jemaah. Bahkan, untuk mengakses sandal untuk berwudhu pun harus antri. Sungguh merindukan masa-masa itu.
Mushola sepi bisa jadi karena memang pegawai di area Wisma dijadwalkan work from home. Bisa juga mereka enggan datang karena posisi mushola yang bersebelahan tepat di sebelah Wisma. Ya entahlah.
Awalnya, kami memang tidak begitu terusik dengan ada tidaknya jemaah mushola. Sampai ketika suatu hari, penghuni baru kami tiba. Dua orang WNA Bangladesh yang hasil uji cepatnya reaktif. Kami tidak khawatir dengan indikasi kondisi medis mereka. Secara riwayat, mereka dalam kondisi baik walaupun salah satu ada yang sedang sakit gigi dan diabetes melitus. Yang menjadi masalah... Kami terkendala oleh bahasa. Bahasa ibu mereka adalah Bengali dan sedikit Inggris yang yes no yes no. Sementara, kami dibantu oleh salah satu ustadz yang mengisi kajian bagi para penghuni wisma kami. Mereka menggunakan Bahasa Arab. Alhamdulillah, kami bisa berkomunikasi dengan baik.
Malam pun tiba. Ustadz penerjemah sudah tidak ada. Petugas mendengar suara ketukan pintu dari kamar Si Bapak. Petugas menghampiri.  
"No slip (no sleep). No ki (no key). Mosqi (mosque)."
Asumsi petugas, yaaaaa... Nggak bisa tidur. Minta kunci. Trus mau sholat. Masjid mana? Si Bapak ini merupakan anggota salah satu jemaah tabligh sehingga petugas berasumsi seperti itu.
Petugas lalu menginfokan... Remote AC ini. Arah kiblat ini. Ke masjid nggak boleh. Dan lain-lain.
Berkali-kali dan begitu terus sampe Subuh menjelang. Akhirnya, salah seorang petugas lain pun berinisiatif bertemu dengan Si Bapak. Dan.. Bahasa tubuh pun beraksi. Tak lama... Petugas keluar mengambil obat semprot antinyamuk.
Oemge. Ternyata... mosqi yang dimaksud bukanlah masjid! Melainkan mosquito alias nyamuk! Gerrrr.  Nyamuk yang bikin Si Bapak nggak bisa tidur. 
Usut punya usut... Si Bapak mempraktikkan dua jarinya yang berjalan di lengannya dan diasumsi oleh petugas sebagai minta izin pergi ke masjid untuk sholat, yang tentunya tidak diperbolehkan. Nah.. ternyata maksud Si Bapak adalah ada nyamuk yang meloncat-loncat di lengannya.  Cuma... kenapa Si Bapak tidak mempraktikkan adegan tepuk nyamuknya, sih. Kan petugas jadi bingung.
Kembali ke mushola.
Bulan Ramadhan membuat hati kami tergelitik untuk menguapkan aroma bulan suci di area Wisma. Yaaa.. agar penghuni Wisma pun bisa merasakan syahdunya bulan penuh barokah n ampunan ini walaupun hanya beraktivitas sendiri di balik kamar. Kami mulai mengumandangkan adzan sebagai penanda waktu sholat dari mushola.
Hingga suatu siang, ada yang menelpon.
"Kok kenapa ada pasien wisma berbaju kuning berkeliaran di area mushola. Malah ngadzan lagi. Kami merasa tidak nyaman sekali. Itu malah sampe ke area perkantoran atas."
Sontak kami kaget alang kepalang. Kok ada penghuni berkeliaran?
Penghuni wisma yang dikarantina memang kami jadwalkan kegiatan di luar kamar. Di pagi hari dan itu pun dalam pengawasan petugas selama mereka berolahraga ringan dan berjemur. Dan tidak akan melewati tali kuning yang sudah dibentangkan.
Tapi untuk memastikan, kami segera berkontak dengan Manajemen Wisma.
"Ooo. Itu sih Abang CS (petugas kebersihan). Kan memang dia ke atas (red. Wisma Petugas memang terpisah) untuk ganti baju seragam dan area kerjanya kadang sampe ke atas. Yaaa... abang itu juga yang sering adzan."
Owalahhh.  Hampir bikin geger. 

Foto: Hedra Ginanjar 

Penulis: 
Adinda Chandralela
Sumber: 
Wisma Karantina Babel
Tags: 
Feature