Fakta dan Pentingnya Vaksinasi bagi Anak

Campak, batuk rejan, cacar, difteri – pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Nama-nama tersebut merupakan sebagian penyakit yang sangat ditakuti oleh masyarakat dan sangat diharapkan untuk berkurang kasusnya dalam tahun-tahun mendatang. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Dalam beberapa bulan terakhir ini saja Indonesia telah ditetapkan mengalami kejadian luar biasa (KLB) campak di Papua pada bulan Januari 2018 dan KLB difteri di 28 provinsi pada bulan Desember 2017 silam. Padahal, penyakit-penyakit mengerikan tersebut dapat dicegah dengan pemberian vaksin ketika balita ataupun dewasa. Belum tersentuhnya vaksin ke hampir 75% anak di Indonesia diduga menjadi salah satu penyebab munculnya KLB di Indonesia. Vaksinasi menjadi sangat penting mengingat tidak adanya vaksin dapat membahayakan kesehatan individu dan juga orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Vaksin sering terbuat dari agen-agen berupa bakteri patogen yang telah dilemahkan atau dimatikan, racunnya, atau protein permukaannya. Agen tersebut akan menstimulasi sistem imun tubuh kita sebagai benda asing, lalu menghancurkan dan mengingatnya sehingga sistem imun dapat mengenali dan menghancurkan bakteri tersebut apabila masuk kembali ke dalam tubuh. Seorang ahli bedah asal Inggris, Andrew Wakefield pada tahun 1998 mempublikasikan hasil studi yang menyimpulkan bahwa vaksin gondong, campak, dan rubella (MMR) dapat menyebabkan autisme pada anak-anak.

Meskipun hasil studi tersebut telah dinyatakan ketidakbenarannya, masih banyak orang tua yang ragu untuk memberikan vaksin pada anaknya. Alasan lain yang melatarbelakangi penolakan orang tua terhadap vaksin yaitu ketidakpercayaan bahwa anak-anak pada usia vaksinasi memiliki risiko terkena penyakit, takut dengan efek samping yang akan muncul seperti demam atau kecemasan, serta ketidakyakinan bahwa penyakit tertentu dapat dicegah dengan vaksin. Berdasarkan survei pada tahun 2011 oleh JournalofPediatrics, lebih dari 10% orang tua tidak melakukan vaksinasi tepat waktu, menunda vaksinasi hingga melewati waktu yang disarankan, memberi jeda waktu yang terlalu lama antar dosis pada vaksinasi bertahap, dan menolak segala jenis vaksinasi. Penolakan tersebut hanya boleh dilakukan apabila anak mengalami alergi atau kelainan autoimun yang telah diverifikasi oleh dokter.

Pemberian informasi yang tepat dan telah terbukti melalui berbagai penelitian ilmiah menjadi sangat penting bagi masyarakat guna mencegah semakin berkembangnya penyakit-penyakit serius di Indonesia. Berdasarkan hasil studi, terlihat bahwa anak-anak yang tidak divaksin memiliki risiko 23 kali lebih besar untuk terjangkit batuk rejan (pertussis), 9 kali lebih berisiko terserang penyakit cacar air, dan 6,5 kali lebih mungkin mengidap penyakit pneumonia dibandingkan dengan anak-anak yang divaksinasi dari masyarakat yang sama.

Berikut fakta-fakta mengenai vaksin yang penting untuk diketahui.

1. Vaksin bersifat aman dan efektif

Vaksin mana pun yang memiliki lisensi telah diuji secara menyeluruh sebelum diperbolehkan untuk penggunaan, dinilai kembali secara teratur, dan selalu dipantau untuk kemungkinan terjadinya efek sampingnya. Pada kasus yang sangat jarang, akan dilakukan penyelidikan apabila dilaporkan ada efek samping yang sangat serius.

2. Vaksin mampu mencegah penyakit-penyakit mematikan

Vaksin menjaga anak-anak dari penyakit-penyakit seperti difteri, campak, gondong dan pertussis (batuk rejan). Kegagalan untuk vaksinasi akan membuat anak-anak dan orang dewasa sangat rentan terhadap penyakit, komplikasi, bahkan kematian.

3. Vaksin memberikan imunitas lebih baik dibandingkan infeksi alami

Respon imun terhadap vaksin serupa dengan respon tubuh terhadap infeksi alami, namun dengan risiko yang lebih rendah. Sebagai contoh: infeksi alami dapat menyebabkan gangguan kognitif dari Haemophilusinfluenzatipe b (Hib), kelainan pada saat kelahiran akibat infeksi rubella bawaan atau kelumpuhan permanen akibat polio.

4. Vaksin tidak mengandung bahan-bahan yang berbahaya

Vaksin mengandung bahan dengan dosis rendah yang aman bagi tubuh. Salah satu contoh bahan dalam vaksin adalah thimerosal, yakni senyawa yang mengandung merkuri dan berfungsi sebagai pengawet untuk vaksin yang diproduksi dalam vialmultidosis. Kita secara alami terpapar dengan merkuri dalam susu, makanan laut, dan cairan lensa kontak. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa jumlah thimerosal yang digunakan dalam vaksin memiliki risiko terhadap kesehatan.

5. Anak dapat diberikan beberapa vaksin sekaligus

Memberikan beberapa vaksin yang mungkin dilakukan pada saat bersamaan (contohnya untuk difteri, pertussis, dan tetanus) tidak menghasilkan efek negatif terhadap sistem imun anak, justru dapat mengurangi rasa sakit dari penyuntikan berkali-kali, serta menghemat uang dan waktu. Kegiatan sederhana seperti makan mengenalkan antigen-antigen baru kepada tubuh, dan banyak sekali bakteri hidup dalam mulut dan hidung. Anak-anak terpapar lebih banyak antigen dari flu pada umumnya dibandingkan dari vaksin.

Dengan kebersihan, sanitasi dan akses yang baik terhadap air bersih sekali pun, penyakit masih menyebar luas. Ketika orang-orang tidak divaksin, penyakit menular yang mulai jarang – difteri, campak, gondong dan polio – dengan cepat muncul kembali. Jika kita menghentikan vaksin, terutama kepada anak-anak, penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan dihentikan penyebarannya akan terus datang kembali.

Sumber:

OfficialJournalof The American AcademyofPediatrics. “AlternativeVaccination Schedule PreferencesAmongParentsof Young Children” (2011).

World HealthOrganization (WHO), (2017).

www.healthline.com

 

Penulis: 
Muhammad Fatur Rahman, SST.,M.Kes
Sumber: 
Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung

Artikel

31/12/2018 | Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung
21/11/2018 | Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung
16/10/2018 | Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung
31/07/2018 | Humas Kwarcabpkp
27/01/2017 | Muhammad Erisco Nurrahman
21/11/2018 | Zulfikri Tabrani, SKM
22/12/2016 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Pertama Pada BKD Pro
27/01/2017 | Sayang Permatasari, S.Kep.