Deteksi Dini Turunkan Angka Kesakitan dan Kematian Akibat Kanker Serviks & Payudara

PANGKALPINANG – Deteksi dini merupakan salah satu upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks dan payudara. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto saat membuka kegiatan Pelatihan Deteksi Dini Kanker Payudara dan Leher Rahim di Hotel Renz. (02/08/2019)

“Sangat disayangkan, penyakit kanker serviks dan payudara ini tidak memberikan gejala dan akan dirasakan setelah penderita pada stadium yang lanjut. Oleh karena itu, untuk upaya pengendalian penyakit tidak menular (PTM) yang efektif, termasuk kanker, deteksi dini perlu dilakukan. Upaya tersebut akan efektif jika dilakukan pada fase awal,” ujar Mulyono.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), lanjut Mulyono, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. “Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Setiap tahun terdeteksi lebih dari lima belas ribu kasus kanker serviks. Sekitar delapan ribu kasus di antaranya berakhir dengan kematian,” jelasnya.

“Pemerintah memasukkan kanker serviks dan payudara menjadi salah satu indikator dalam rencana strategis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015–2019, yaitu melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara pada wanita usia 30 – 50 tahun sebanyak 50 persen sampai dengan tahun 2019,” lanjut Mulyono.

Pada tahun 2019, tambah Mulyono, cakupan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kumulatif tahun 2015 sampai dengan semester 1 tahun 2019 adalah 31,4 persen (63.518) dari target 101.187 orang. “Angka ini masih sangat cukup rendah, mengingat kita sudah memasuki pertengahan tahun. Oleh karena itu kerja keras dari semua pihak sangat diharapkan,” lanjutnya.

Dalam pelatihan yang melibatkan tenaga kesehatan puskemas ini, Mulyono juga menjelaskan bahwa deteksi dini sangat diperlukan agar jika ditemukan dapat ditindaklanjuti secara benar dan tepat dan mencegah terjadi kanker serviks dan payudara ke stadium lanjut.

“Agar upaya ini dapat berjalan dengan baik, benar, dan tepat, diperlukan peningkatan sumber daya manusia yang kompeten yang berdaya guna yang dapat bersaing dan tanpa mengenal pamrih. Upaya terintegrasi yang melibatkan lintas program dan lintas sektor sangat diperlukan dalam menjaring masyarakat agar tidak jatuh ke penyakit kanker,” pungkas Mulyono.

Sumber: 
Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Penulis: 
Adinda Chandralela
Fotografer: 
Yuli Erika
Bidang Informasi: 
Dinkes