CEMARAN BAHAN KIMIA PADA PRODUK PANGAN PERIKANAN

    1.   Pendahuluan

Propinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah salah satu dari propinsi yang wilayahnya terdiri dari gugusan kepulauan di Indonesia. Sebagai sebuah propinsi kepulauan, Bangka Belitung mempunyai wilayah perairan darat yang merupakan bekas penambangan dan perairan laut yang luas, maka potensi produk perikanan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat besar. Berbagai ragam produk perikanan dan olahannya di Bangka Belitung sangat terkenal, seperti rusip yang merupakan olahan fermentasi ikan teri, kerupuk dengan beraneka-ragam bentuk dan rasa, otak-otak, serta produk-produk olahan lain. Dalam konsumsi sehari-hari, produk pangan perikanan menjadi menu utama bagi masyarakat Bangka Belitung.

Menurut Undang-Undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan dijelaskan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia dan makhluk hidup lainnya, selain kebutuhan dasar untuk bernapas, berkembang biak dan  Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai  makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.1 Agar tubuh kita dapat selalu sehat, maka pangan yang baik sangat dibutuhkan untuk dikonsumsi dalam jumlah yang adekuat dan seimbang, baik segi jumlah, variasi, komposisi zat gizi dan beraneka ragam bahan makanan.

Keamanan pangan, termasuk keamanan produk pangan perikanan sangat penting diperhatikan, karena sebagai penduduk kepulauan, produk pangan perikanan menjadi produk pangan utama dalam konsumsi sehari-hari masyarakat Bangka Belitung. Keamanan Pangan diselenggarakan untuk menjaga pangan tetap aman, higienis, bermutu, bergizi, dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat. Keamanan pangan dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.1 Salah satu bentuk pencemaran pangan yang perlu mendapat perhatian di Bangka Belitung adalah pencemaran bahan kimia.

    2.   Cemaran Bahan Kimia Pada Produk Perikanan

Peristiwa yang sangat memilukan mengenai pencemaran bahan kimia terhadap produk pangan perikanan pernah terjadi di selat minamata. Pencemaran metilmerkuri akibat limbah industri pada perairan di selat minamata menyebabkan terjadinya keracunan pada penduduk minamata yang mengkonsumsi ikan dan kerang pada tahun 1956. Penyakit minamata atau juga dikenal dengan Penyakit Itai-itai disebabkan metilmerkuri memasuki tubuh, terutama menyerang system saraf pusat, termasuk otak dan menyebabkan berbagai gejala, termasuk mati rasa dan getaran pada kaki dan tangan, kelelahan, bunyi dering di telinga, penyempitan bidang pandang, hilangnya pendengaran, wicara dan gerakan yang kaku.2 

Pencemaran merkuri pada produk perikanan sering terjadi, karena penggunaan bahan bakar fosil, industri dan sampah. Pembuangan sisa-sisa bahan bakar fosil, seperti solar dan sisa-sisa hasil pembakaran lain ke perairan atau lautan dapat menyebabkan merkuri terkumulasi pada lingkungan air dan selanjutnya mikroorganisme air dapat mengubah merkuri menjadi metilmerkuri yang bersifat racun.3 Mercury juga bermigrasi dari gigi ke jaringan melalui proses mengunyah yang mengubah jumlah kecil amalgam ke uap merkuri dan partikel-partikel yang dapat ditelan dan diserap dalam saluran cerna.4 Oleh Karena itu, pencemaran laut dengan pembuangan sisa-sisa pembakaran, industri dan sampah perlu dihindari, agar produk perikanan yang ada tidak mengandung merkuri yang berbahaya bagi kesehatan. Meskipun produk perikanan di Bangka Belitung belum pernah diteliti kandungan merkurinya, upaya menghindari terjadinya pencemaran merkuri dalam produk perikanan perlu tetap dilakukan, sehingga batasan maksimum merkuri dalam produk ikan olahan adalah 0,5 ppm  dan produk perikanan lainnya sebesar 1,0 ppm tidak terlampaui.3

Bahan kimia lain yang dapat mencemari produk perikanan adalah timbal (plumbum) atau timah. Propinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan daerah pertambangan timah yang memungkinkan terjadinya pencemaran perairan selama proses penambangan berlangsung. Kandungan logam yang tinggi dijumpai dalam air bekas tambang yang melebih ambang baku untuk air minum dan budidaya ikan. 5 Timbal akan lebih mudah diabsorpsi bila tubuh kekurangan kalsium, zinc dan besi, serta lemak dalam makanan dan selanjutnya diedarkan dalam tubuh melalui eritrosit atau sel darah merah. Simpanan tertinggi timbal dalam tubuh terutama di hati dan didistribusikan pada tulang, ginjal, otot dan rambut dengan kadar normal dalam darah sebanyak 0,1 mg/kg. 3

Keracunan timbal atau timah pada kondisi akut menyebabkan terjadinya anoreksia, apatis, dan oedema otak yang ditunjukkan dengan gejala tremor kepala dan leher, kehilangan koordinasi, saliva, geletuk gigi, agresif, pandangan kabur dan kolaps pernapasan. Gejala lain yang mungkin terjadi adalah perubahan konstipasi dan diare berat, sakit bagian perut yang kuat dan tegang otot perut.3 Untuk mengurangi kandungan timbal dalam produk perikanan, termasuk di wilayah yang beresiko pencemaran seperti Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat dengan merendam produk perikanan tersebut dengan asam jawa atau asam wuluh.6

Sesuai dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, Pemerintah dan / atau Pemerintah Daerah mempunyai kewajiban untuk membina dan mengawasi pelaksanaan penerapan norma, standar, prosedur dan criteria keamanan pangan. Beberapa regulasi telah ditetapkan guna mengatur hal tersebut, meliputi Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, Undang-Undang nomor 38 tahun 2009 tentang Kesehatan. Keamanan pangan juga menjadi kewajiban bagi setiap orang yang terlibat dalam rantai pangan untuk mengendalikan risiko bahaya pada pangan, baik yang berasal dari bahan, peralatan, sarana produksi, maupun dari perseorangan. Meskipun kejadian keracunan makanan, terutama produk perikanan yang tercemar bahan kimia di Bangka Belitung tidak terlalu besar, kita tetap harus selalu meningkatkan upaya keamanan pangan bagi seluruh masyarakat, yang berujung pada upaya peningkatan status gizi masyarakat di Bangka Belitung.

Keterlibatan lintas sector dalam upaya keamanan pangan masih perlu ditingkatkan. Titik pengawasan yang dimulai dari kualitas bahan baku, proses produksi, pemasaran dan distribusi hingga berakhir di meja makan harus dapat menjadi perhatian setiap elemen yang terkait. Peningkatan kualitas bahan baku dengan tidak menangkap ikan dan produk perikanan lainnya dengan menggunakan zat kimia dan menghindari konsumsi produk perikanan yang berasal dari daerah yang tercemar limbah industry, baik melalui udara, maupun air harus menjadi budaya dalam masyarakat. Pengolahan limbah industry dan rumah tangga yang baik, terutama limbah yang dapata mencemari udara, tanah dan air yang bermuara pada danau, sungai dan laut sangat dibutuhkan, sehingga kumulasi merkuri, timbal dan bahan cemaran kimia lainnya tidak meningkat.

    3.   Kesimpulan dan Saran

Meskipun Bangka Belitung bukanlah propinsi pusat industry utama, pencemaran pada produk perikanan masih dapat terjadi dari pengolahan tambang yang kurang tepat dan penggunaan bahan kimia yang sembarangan. Oleh karena itu, peningkatan pembinaan dan pengawasan guna mengurangi risiko pencemaran terhadap produk perikanan di Bangka Belitung perlu dilakukan. Peningkatan pemahaman masyarakat dalam upaya mengurangi risiko konsumsi pangan tercemar perlu dilakukan secara lintas sector yang ada, sehingga terwujudnya pangan aman, seimbang dan bergizi bagi seluruh masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat tercapai.

Penulis: 
Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.
Sumber: 
Kesmas

Artikel

27/01/2017 | Sayang Permatasari, S.Kep.
13/03/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med
13/10/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.
13/05/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.
13/07/2017 | Wiwin Efrizal, SST. Gizi, M.Si.Med.