Aksi Peduli Kusta, Dinkes Babel Gelar Seminar 

PANGKALPINANG – Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar Seminar Aksi Peduli Kusta dalam rangka Hari Kusta SeduniaTahun 2019 dengan mengangkat tema "Stop Diskriminasi, Ayo Sukseskan Eliminasi Kusta" di Hotel Bangka City. (26/03/2019)

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit,  Muhammad Henry mengatakan bahwa penyakit kusta disebabkan oleh kuman kusta Mycobacterium leprae dan bias menular. Hingga saat ini, penyakit kusta masih dapat ditemukan di Indonesia, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

"Apabila tidak ditemukan secara dini dan tidak ditangani secara tepat, kusta dapat menyebabkan kecacatan. Dan ini tentunya dapat merugikan penderita dan keluarganya, bahkan masyarakat dan negara," ujar Henry.

Kasus kusta di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, lanjut Henry,  pada tahun 2018 ditemukan sebanyak 46 kasus, yang terdiri atas 10 kasus tipe pausi basiler dan 36 kasus multibasiler. Kasus frambusia sampai saat ini belum pernah ditemukan.

"Dari 46 kasus baru tersebut, ada lima kasus kusta yang cacat. Hal ini menandakan adanya keterlambatan dalam pengobatan," ungkapnya.

Pemateri Seminar ini, Dokter Usman dari Rumah Sakit dr. Rivai Abdullah Palembang mengingatkan mengenai kewaspadaan jika terdapat bercak kulit berwana putih tanpa gatal, yang mati rasa atau tidak sakit pada diri sendiri, anggota keluarga, atau orang terdekat.

"Ciri khas kusta adalah kurang rasa atau mati rasa samasekali. Jika dibiarkan, penderita kusta dapat mengalami kecacatan. Sarafnya rusak sehingga ia tidak dapat merasakan sakit meskipun jarinya putus," jelasnya.

Namun tidak perlu khawatir, lanjutnya. "Dengan penanganan yang tepat dan benar, penyakit ini dapat disembuhkan. Segera konsultasikan ke puskesmas terdekat. Kusta dapat diobati dengan obat kombinasi yang sudah direkomendasikan," ungkapnya.

Sementara Kepala Seksi Penyakit TidakMenular,  Evalusi menjelaskan bahwa meskipun saat ini sudah dapat disembuhkan, bukan berarti sudah terbebas dari masalah penyakit kusta. "Dari tahun ke tahun masih ditemukan sejumlah penderita baru. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga kesinambungan pelayanan kusta yang berkualitas," lanjutnya.

"Kita juga harus memastikan setiap orang yang terkena kusta di mana pun berada mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan oleh petugas kesehatan yang kompeten, termasuk sistem rujukan efektif dalam mengatasi komplikasi tanpa terlambat dan biaya yang tinggi," harap Evalusi.

Dalam kesempatan ini, dihadirkan juga penderita kusta yang sudah sembuh. Hal ini membuktikan bahwa orang dengan kusta dapat beraktivitas seperti biasa dan tidak perlu dikucilkan. Bahkan, mereka dapat berperan dalam kehidupan bermasyakat, seperti Ibu Hariyani sebagai guru mengaji dan Bapak Muharram sebagai kepala dusun di salah satu desa di Kabupaten Bangka Tengah.

Sumber: 
Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Penulis: 
Adinda Chandralela
Fotografer: 
Adinda Chandralela
Bidang Informasi: 
Dinkes
Tags: 
Seminar; Kusta

Berita

27/03/2019 | Bidang Sumber Daya Kese...
27/03/2019 | Bidang Pencegahan dan P...
20/03/2019 | Bidang Pencegahan dan P...
28/02/2019 | Bidang Pencegahan dan P...
18/12/2018 | Dinas Kesehatan Provins...
21/11/2018 | Dinas Kesehatan Provins...
15/11/2018 | Dinas Kesehatan Provins...
24/09/2018 | Dinas Kesehatan Provins...
24/08/2018 | Dinas Kesehatan Provins...